Wartawan Senior Joey Rihi Gah: Setiap Organisasi Harus Berjalan Pada Relnya, Jangan Lukai Sesama Insan Pers.
KUPANG – Pernyataan sikap Koalisi Keadilan untuk Jurnalis (KKJ) NTT bersama AJI Kupang yang berjudul “Stop Pembodohan Publik! Tolak Jurnalisme Sampah dan Pemberitaan Pembunuhan Karakter” menuai tanggapan tegas dari wartawan senior media Seputar NTT, Joey Rihi Gah.
Menurut Joey, setiap lembaga dan organisasi memiliki koridor, fungsi, dan tanggung jawab masing-masing. Ketika melenceng dari jalur yang seharusnya, maka dampaknya tak lain adalah melukai pihak lain yang seharusnya menjadi mitra sejajar.
“Setiap organisasi harus berjalan pada relnya. Kalau tidak berjalan pada rel, pasti ada yang tersakiti,” tegas Joey dengan nada tegas saat menyampaikan pandangannya, Kamis (13/8/2026).
Ia sangat menyayangkan apa yang disampaikan KKJ dan AJI Kupang. Sebab, nama yang diusung justru bermakna perlindungan, namun pernyataan yang dilontarkan terasa tajam menyerang sesama pekerja media.
“Sangat ironis. Namanya Koalisi Keselamatan Jurnalis, namun dalam pernyataannya justru terasa menyerang insan pers itu sendiri,” ujarnya.
Joey mengingatkan kembali peran strategis pers dalam menjaga demokrasi. Kebebasan menyuarakan fakta dan keberanian wartawan menyampaikan informasi publik adalah hak yang harus dijaga bersama, bukan dipertentangkan sesama profesi.
“Kondisi boleh berubah, namun pers pasti akan tetap hidup. Jika pers tak lagi bersuara, lambat laun kebenaran pun ikut dibungkam,” tandasnya.
Joey berharap pernyataan sikap Forum Jurnalis Anti-Kriminalisasi (FORSA) NTT dapat diteruskan hingga ke jajaran pusat KKJ. Persoalan di daerah harus dilihat secara utuh dan menyeluruh, bukan hanya sepihak, agar solusi yang diambil benar-benar menjamin kemerdekaan dan perlindungan pers.
Di akhir pernyataannya, ia meminta agar pernyataan yang dinilai tendensius dan menyakitkan hati sesama pekerja jurnalistik tidak terulang lagi. “Mari kita bangun komunikasi, saling hormati, dan bersatu menjaga kemerdekaan pers demi kepentingan masyarakat luas,” pesannya.
Editor : Hiro Lukas
