Lebih dari Sekadar Panen – Merawat Tanah, Menghormati Petani, Menjaga Masa Depan.

IMG_20261015_180245_304

Oleh: Damianus Dionisius Nuwa. (Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)

 

Klikinfopol.com. Pada Jumat, 14 Oktober 2026, di Dusun Detuboti, Desa Mautenda Barat, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, terjadi sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar memotong padi. Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, hadir dalam kegiatan “Panen Bersama, Belajar Bersama” – sebuah momen yang mengajak kita menatap ulang hubungan paling mendasar dalam hidup manusia: hubungan kita dengan tanah, pangan, dan sesama.

Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Tana Nua ini bukan sekadar perayaan hasil kerja keras di ladang. Ia adalah cermin tentang cara kita memandang kehidupan itu sendiri.

Selama ini, kemajuan pertanian sering kali diukur dari satu angka: seberapa banyak hasil panen. Namun, di tengah ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal, perubahan iklim yang tidak menentu, dan tanah yang perlahan kehilangan kesuburan, ukuran itu mulai dipertanyakan.

“Apakah tanah setelah puluhan tahun ditanami masih tetap hidup? Apakah air tetap bersih? Apakah biaya produksi tidak lagi membebani petani? Dan apakah anak cucu kita masih akan memiliki tanah yang layak untuk diwarisi?”

Pertanian organik hadir bukan sebagai solusi instan, melainkan jalan pulang. Jalan yang mengingatkan kita bahwa tanah bukan sekadar alat menghasilkan komoditas – ia adalah sumber kehidupan yang dipinjamkan kepada kita untuk dirawat, bukan dieksploitasi.

Namun, pertanian organik juga bukan tanpa tantangan. Masa transisi membutuhkan waktu, pengetahuan, dan kesabaran. Dan di sinilah letak keadilannya:

“Jangan sampai petani diminta menjaga lingkungan, tetapi harus menanggung sendiri seluruh biaya dan risikonya. Jangan sampai beras organik terjual mahal di pasar, tetapi petani yang menanamnya tetap hidup sederhana.”

Pertanian yang berkelanjutan tidak bisa hanya dibebankan kepada petani. Ia membutuhkan rantai kebaikan yang utuh:

✅ Pemerintah membuka akses pelatihan, sarana produksi, infrastruktur, dan pasar

✅ Lembaga pendamping memperkuat kemandirian dan organisasi petani

✅ Gereja dan komunitas membangun kesadaran ekologis dan solidaritas sosial

✅ Konsumen siap membayar harga yang adil – bukan hanya untuk berasnya, tetapi untuk menghargai tenaga petani dan bumi yang terjaga.

Kehadiran Uskup Agung Ende di tengah petani di Detuboti memiliki makna yang dalam. Gereja hadir bukan hanya saat umat berdoa di gedung ibadah, tetapi juga saat mereka berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti yang diingatkan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’: bumi adalah rumah bersama. Kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial adalah dua sisi dari satu persoalan yang sama.

“Ketika petani merawat tanah, masyarakat menghargai hasil kerja mereka, lembaga mendampingi dengan tulus, dan Gereja berjalan bersama mereka – pertanian tidak sekadar menghasilkan beras. Ia menjadi jalan untuk merawat bumi dan memelihara kehidupan.”

Panen di Detuboti seharusnya tidak berakhir saat padi dipotong. Ia harus menjadi awal percakapan yang lebih luas:

🔸 Bagaimana generasi muda memandang profesi petani?

🔸 Apakah hasil pertanian lokal memperoleh tempat yang layak di pasar?

🔸 Apakah kebijakan pertanian benar-benar memihak mereka yang menanam padi?

“Keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari berapa banyak beras di lumbung hari ini, tetapi dari apakah tanah tetap subur, lingkungan terjaga, dan petani tetap sejahtera esok hari.”

Merawat bumi bukan tugas satu pihak saja. Ia adalah panggilan bersama. Dan di sinilah panen yang sesungguhnya: bukan ketika kita mengisi lumbung, tetapi ketika kita memastikan bahwa bumi ini tetap memberi kehidupan untuk generasi yang akan datang.(*)

 

Editor: Hiro Lukas