Demi 177.678 Siswa Terdampak: Gubernur Melki Minta Dukungan Presiden, Tenda Belajar Jadi Kunci Pemulihan Pendidikan Pascagempa Flores.
KUPANG, klikinfopol.com. 3 September 2026. Pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana. Itulah tekad kuat Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena yang langsung meminta dukungan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores. Kebutuhan paling mendesak saat ini: tenda ruang belajar darurat, agar puluhan ribu siswa segera kembali belajar sekaligus pulih dari trauma.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menunjukkan dampak gempa 15 Agustus sangat masif:
Data Jumlah
– Satuan pendidikan terdampak 1.378 (7 kabupaten, 8 jenjang pendidikan)
– Siswa terdampak 177.678
– Guru & tenaga kependidikan 21.166
– Ruang kelas rusak 5.521
– Sekolah rusak berat 502
Terdiri dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan pendidikan kesetaraan — semuanya terimbas.
Dalam rapat penanganan gempa di Posko Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Gubernur Melki menyampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto:
“Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai. Karena kalau pendidikan sudah berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak.”
Gubernur menegaskan: sekolah bukan sekadar tempat belajar, ini ruang pemulihan. Kembalinya kegiatan belajar adalah tanda nyata bahwa kehidupan mulai bangkit kembali.
“Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata.”
Saat ini, di sejumlah sekolah terdampak, proses belajar mulai berjalan dengan segala keterbatasan di tenda, ruang yang masih aman, bahkan di tempat terbuka. SMA Negeri Maurole di Ende dan SMAN 4 Satarmese di Manggarai adalah contohnya. Namun kebutuhan jauh lebih besar.
Gubernur meminta:
– Tenda berkapasitas 30–50 orang segera diprioritaskan dan didistribusikan
– Pemanfaatan material lokal, bambu dan terpal seperti yang sudah dilakukan di Nagekeo, sebagai solusi cepat dan murah
– Pendataan sistematis & terverifikasi — libatkan mahasiswa teknik sipil dan arsitektur dari perguruan tinggi untuk memetakan kerusakan secara akurat
“Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak.”
Gubernur Melki menekankan hal yang sering terlupakan: dampak psikologis sama beratnya dengan kerusakan fisik. Anak-anak dan guru masih hidup dalam ketidakpastian, tinggal di pengungsian, dan membawa trauma setiap hari.
“Mental health di pengungsian ini berat berkali-kali lipat dibanding situasi normal. Ini penting karena kesehatan mental akan menjadi masalah serius di pengungsian.”
Langkah-langkah yang diambil:
– Setiap sekolah siapkan tim pendampingan psikososial, tidak hanya menunggu bantuan dari luar
– Trauma healing melalui seni, budaya, kearifan lokal, tidak hanya pendekatan medis
– Perhatikan juga guru, mereka juga korban bencana, kehilangan rumah, namun tetap harus mengajar
– Aktifkan kembali Jam Belajar Masyarakat, belajar bisa berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat
Sambil mengupayakan solusi darurat, Pemprov NTT juga menyiapkan pemulihan jangka menengah dan panjang:
– 882 ruang kelas membutuhkan revitalisasi
– Kerja sama dengan kementerian terkait sudah ditandatangani
– Pemerintah pusat juga menyiapkan pembangunan sekolah darurat berbasis material lokal
“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma.”
Dari tenda darurat hingga bangunan baru, pendidikan Flores sedang dalam proses bangkit. Dan di balik setiap upaya itu, ada satu tujuan mulia: memastikan 177.678 siswa Flores tetap punya masa depan, walau bencana telah merenggut sebagian dari masa lalu mereka.
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.
Editor: Hiro Lukas
