Camino de Flores Resmi Ditutup di Katedral Ende, Mari Elka Pangestu: “Hati Kami, Kami Tinggalkan di Flores”

IMG_20261027_064813_659

ENDE, klikinfopol.com. – Perhelatan perdana ziarah wisata religius Camino de Flores resmi ditutup dengan khidmat melalui perayaan Misa Kudus di Gereja Kristus Raja Katedral Ende, Senin (26/10/2026). Misa penutup dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D.

Camino de Flores adalah jalur ziarah jalan kaki sejauh sekitar 70 kilometer yang mengusung konsep terinspirasi dari Camino de Santiago di Spanyol, namun dikemas dengan kekhasan budaya, sejarah, dan spiritualitas Pulau Flores. Pada edisi perdana ini, para peziarah melintasi rute dari Bajawa (Ngada), Nagekeo, Mataloko, hingga berakhir di Kota Ende. Program ini digagas oleh Mari Elka Pangestu dan didukung Kementerian Pariwisata serta Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Dalam sambutannya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut Camino de Flores sebagai terobosan baru sekaligus kebanggaan tersendiri bagi daerah.

“Acara ini mungkin yang pertama di Indonesia, dan dibuat di Flores. Saat diluncurkan di Kementerian Pariwisata, langsung diambil sebagai program percontohan pariwisata religius. Melihat keberhasilan hari ini, semoga tahun depan bisa diselenggarakan lagi,” ujar Gubernur Melki.

Gubernur juga menyampaikan harapan agar Camino de Flores terus dikembangkan menjadi ikon pariwisata religius khas Flores, sejalan dengan semangat Festival Golo Koe di Keuskupan Labuan Bajo yang telah lebih dulu berjalan.

Penggagas sekaligus peserta utama Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Perjalanan 70 kilometer ini bertepatan dengan peringatan ulang tahunnya yang ke-70 – sebuah momen istimewa yang bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan gerakan sosial untuk menggalang dana pemulihan pasca-gempa di Flores.

“Selama perjalanan, kami melihat banyak rumah dan gereja yang hancur akibat gempa. Namun yang menyentuh hati, masyarakat tetap tersenyum dan menyambut kami dengan hangat. Terima kasih Flores. Hati kami, kami tinggalkan di Flores,” ucap Mari Elka dengan haru.

Dana yang terkumpul dari kegiatan ini akan digunakan untuk perbaikan fasilitas Katedral Ende, persiapan perayaan 100 tahun Katedral Ende pada 2027, serta pembangunan fasilitas umum lainnya.

Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D., turut menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan selamat ulang tahun ke-70 kepada Mari Elka Pangestu.

“Terima kasih, Ibu, mengambil inisiatif yang begitu indah. Semoga Camino de Flores menjadi berkat bagi kami di Flores dan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Uskup Budi juga menginformasikan bahwa sumbangan dari kegiatan ini telah membantu pembangunan fasilitas toilet di Katedral Ende, dan selanjutnya akan digunakan untuk pembangunan rumah tinggal bagi para imam tua di Keuskupan Agung Ende.

Penutupan Camino de Flores diakhiri dengan bazar UMKM, kunjungan ke Serambi Sukarno di Biara St. Yosef Ende, serta resepsi di Kevikepan Ende.(*)

 

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.

Penulis: Mario F. Lawi

Foto: Librik Abineno

Editor: Hiro Lukas