Hutan Bukan Sekadar Pohon: Penelitian Dr. Hildigardis Bawa Nilai Lokal Le’un Rabasa Hain ke Aula Kebijakan Negara.

IMG_20260831_194048_543

KUPANG, klikinfopol.com. 31 Agustus 2026. Kabar membanggakan hadir dari dunia akademik Nusa Tenggara Timur. Dosen sosialogi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, Hildigardis Maria Imakulata Nahak, S.Sos., M.Si., resmi dinyatakan lulus ujian terbuka promosi doktor dan berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi. Ujian berlangsung dinamis, penuh diskusi tajam namun tetap hangat, Senin pagi di Aula Lantai II FISIP Undana, Jalan Adisucipto, Penfui.

Ujian terbuka ini dipimpin langsung tim promotor dan dewan penguji ahli: Promotor Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S., didampingi Ko-Promotor Dr. Ajis Salim Adang Djaha, M.Si. serta Dr. Drs. Melkisedek N. B. C. Neolaka, M.Si. Sementara dewan penguji terdiri dari Prof. Dr. David B. W. Pandie, M.S., Prof. Dr. Petrus Kase, M.Soc.Sc., Prof. Dr. Ir. Fransiskus Xaverius Dako, S.Hut., M.Sc., IPU, serta Koordinator Prodi Ilmu Administrasi Dr. Laurensius Sayrani, MPA. Turut hadir pula perwakilan guru besar Prof. Dr. Frans Gana, M.Si. dan Dekan FISIP Undana Prof. Dr. Wiliam Djani, M.Si. Keberhasilan ini disaksikan keluarga besar Rabasa, tokoh agama, rekan sejawat, serta teman almamater.

Dalam disertasinya berjudul “Konstruksi Ontologi Kearifan Lokal Tetun Sebagai Basis Perumusan Kebijakan Publik Pelestarian Hutan pada Masyarakat Adat Le’un Rabasa Hain Kabupaten Malaka”, Dr. Hildigardis menyoroti satu persoalan mendasar: hutan terus tergerus meski sudah banyak aturan dibuat. Sebabnya, kebijakan pelestarian selama ini lebih banyak bersifat perintah administratif, sementara nilai-nilai hidup masyarakat yang menjaga hutan sejak lama justru sering diabaikan.

“Bagi masyarakat Tetun, hutan bukan sekadar sumber kayu atau lahan. Hutan adalah ruang hidup yang menyatukan manusia, alam, leluhur, dan Yang Maha Kuasa, satu kesatuan tak terpisahkan,” ungkapnya di hadapan dewan penguji.

Penelitian mendalam ini melahirkan temuan baru berupa Model Kebijakan Pelestarian Hutan Berbasis Ontologi Kearifan Lokal. Sebuah tawaran agar negara tidak lagi menyusun aturan pelestarian dari pandangan semata-mata di atas meja, melainkan berpijak dulu pada cara pandang masyarakat adat sendiri terhadap hutan. Tanpa fondasi ini, kebijakan berisiko kehilangan dukungan warga dan mudah gagal di lapangan.

Secara nyata, ia menyarankan agar pemerintah desa mulai menyusun peraturan desa yang memasukkan nilai dan aturan adat ke dalam rencana pembangunan, sehingga pelestarian hutan tumbuh dari kesadaran sendiri, bukan sekadar kewajiban.

Di balik gelar yang kini tersemat, ada perjuangan panjang yang diperkuat doa orang-orang terdekatnya. Anggota APPSI dan pengurus Bidang Humas ISI NTT, yang juga pernah meraih gelar Microsoft Certified Educator ini — menyampaikan persembahan penuh haru:

“Gelar ini kupersembahkan untuk suami tercinta dan anak-anakku. Doa, kesabaran, dan semangat kalianlah yang membuatku kuat melewati masa-masa berat. Gelar doktor ini juga menjadi bagian dari perjalanan belajar menjadi ibu yang lebih bijaksana. Terima kasih dan kenanganku tertuju juga untuk yang tercinta almarhum Ferdinandus Nahak serta almarhumah Wilhelmina Seuk, dan Kaka tersayang alm. Pater Norbertus Nahak, SVD.

Keberhasilan ini menjadi kebanggaan besar bagi keluarga besar Rabasa (Uma Kabuka Leon), sekaligus bukti bahwa kecerdasan berakar pada budaya sendiri mampu melahirkan gagasan yang menjawab tantangan nyata di tanah kelahirannya. (Hiro Lukas)