Pramuka Belu: “Perang Narkoba & Bangun Zona Integritas” — Di Tengah Minim Perhatian, Semangat Tetap Bernyala.

IMG_20260805_042816_010

ATAMBUA, 5 Agustus 2026.

Kwarcab Belu tampil penuh semangat dalam Jambore Daerah (Jamda) X NTT sekaligus bersiap melaju ke Jambore Nasional (Jamnas) XII 2026. Dengan kekuatan 7 regu (4 putri, 3 putra), Belu meraih apresiasi sebagai Kontingen Terbanyak Ketiga se-NTT. Lebih dari sekadar barisan dan yel-yel, Pramuka Belu membawa dua komitmen besar: Pramuka Bersinar — Perang Melawan Narkoba, dan Mewujudkan Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK).

Di pembukaan Jamda X, Kwarcab Belu turut menyuarakan Deklarasi Perang Melawan Narkoba — menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, mendukung kebijakan BNN, dan bertekad mewujudkan Indonesia Bersih Narkoba (BERINAR).

Bagi Belu yang perbatasan langsung dengan Timor-Leste, ini bukan sekadar seruan. Lewat lomba yel-yel anti-narkoba, karnaval budaya dengan pesan khas Tetun—”Husar Binan Rai Belu, Tetuk Ho Kmanek — Kwarcab Belu Dukung Perang Melawan Narkoba” — mereka mengajak generasi muda ikut memantau, melaporkan, dan menolak narkoba sejak dini. Pramuka adalah garda terdepan: mencegah bukan hanya dari luar, tapi dimulai dari dalam diri sendiri.

Bekerja sama dengan Pengadilan Tinggi NTT, pada penutupan Jamda X, Pramuka secara resmi mendeklarasikan diri menuju Zona Integritas — Wilayah Bebas Korupsi.

Pilarnya: Darma ke-9: Bertanggungjawab dan dapat dipercaya; Darma ke-10: Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pramuka Belu menanamkan hidup Hemat, Cermat, Bersahaja, serta pengelolaan kegiatan yang terbuka dan transparan.

“Secangkir kopi tak sibuk mengoreksi cangkir lain. Ia hanya menjaga rasa, aroma, dan kehangatannya sendiri.” — Pramuka Belu berkomitmen memperbaiki diri, bukan sibuk menilai orang lain. Berani jujur meski sendirian.

Di balik semangat itu, ada kenyataan pahit: 75% biaya keikutsertaan Jamda dan persiapan Jamnas bersumber dari mandiri orang tua dan sekolah, sementara dana hibah yang seharusnya mendukung butuh proses panjang dan berbelit.

Pramuka adalah satu-satunya organisasi kepemudaan dengan landasan UU No.12 Tahun 2010, namun perhatian anggaran dan dukungan pemerintah daerah dirasakan masih sangat minim. Pengurus kerap “mengemis” perhatian yang tak kunjung membuahkan hasil. Namun Pramuka Belu tak menyerah — kekreatifan, dukungan orang tua, dan kemandirian justru menjadi kekuatan yang melahirkan gagasan-gagasan baru.

“Bunga tetap harum, meski diberikan kepada orang yang tak tahu menghargainya.” — Nilai-nilai Pramuka tak akan berkurang sekalipun diremehkan. Api semangat tetap menyala.

Mengutip pelajaran dari bangsa yang memajukan diri lewat pembangunan karakter generasi muda, Pramuka Belu menegaskan: kepintaran tanpa karakter rapuh dan berbahaya. Membentuk generasi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan melayani — itulah investasi terbesar bagi masa depan bangsa.

“Semakin besar kepercayaan yang kau terima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kau pikul.”

Pramuka Belu berjanji: terus bersinar melawan narkoba, tegakkan integritas bebas korupsi, dan menjadi teladan — meski langkah sendirian, arah tetap lurus.  (Hiro Lukas)