Gubernur NTT: Perbatasan Harus Menjadi Ruang Dialog, Kolaborasi, dan Kesejahteraan Bersama.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, membuka secara resmi Festival Philosophia Sapere Aude (PSA) V yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira di Kampus Penfui, Kamis (4/6) malam.
Mengusung tema “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan: Indonesia dan Timor-Leste”, festival ini menjadi ruang akademik, budaya, dan kemanusiaan yang mengajak generasi muda untuk merefleksikan berbagai dinamika kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan kedua negara.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Filsafat UNWIRA yang secara konsisten menghadirkan ruang akademik yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong refleksi kritis terhadap berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Menurut Gubernur, perbatasan Indonesia dan Timor-Leste bukan sekadar batas geografis dan administratif, melainkan ruang perjumpaan sejarah, budaya, bahasa, dan identitas yang telah terjalin jauh sebelum batas-batas politik modern terbentuk.
“Negara boleh berbeda, tetapi masyarakat masih terhubung oleh akar budaya, relasi kekerabatan, dan memori bersama yang telah ada jauh sebelum batas-batas politik modern ditetapkan. Karena itu, kita belajar bahwa batas negara penting untuk menjaga kedaulatan, tetapi tidak boleh menjadi penghalang bagi kemanusiaan,” ujar Gubernur.
Ia menegaskan bahwa masa depan kawasan perbatasan tidak dapat dibangun hanya dengan pagar, aturan, dan infrastruktur semata. Kawasan perbatasan harus dibangun di atas dialog, saling pengertian, dan kepercayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk terus memperkuat hubungan kerja sama dengan Timor-Leste, termasuk melalui pengembangan gagasan Free Trade Zone (FTZ) Indonesia–Timor-Leste.
“FTZ tidak boleh dipahami semata-mata sebagai kawasan perdagangan bebas. Lebih dari itu, FTZ harus menjadi instrumen untuk memperkuat hubungan sosial, memperluas ruang kerja sama, membuka peluang kesejahteraan, dan menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan baru yang memberi manfaat bagi masyarakat di kedua negara,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA, RD. Theo Silab, menegaskan bahwa perbatasan harus dipandang sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai identitas dan kepentingan.
“Perbatasan bukan hanya garis pada peta yang memisahkan negara. Perbatasan adalah arena perjumpaan bahasa, budaya, ekonomi, sejarah dan identitas. Di sana terdapat sekaligus peluang dan tantangan. Dari perspektif ini, membangun jembatan dialog berarti mengutamakan kehidupan bersama yang bermartabat. Dialog yang kita maksud tentu mesti berdasarkan etika,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UNWIRA, RD. Dr. Stefanus Lio, SVD, mengatakan bahwa Festival Philosophia Sapere Aude tidak sekadar menjadi ruang akademik untuk bertukar gagasan, melainkan juga wadah refleksi kritis mengenai tantangan dan peluang hidup bersama di kawasan perbatasan.
“Hemat saya festival ini tidak sekadar menjadi ruang akademik untuk bertukar gagasan, melainkan menjadi wadah refleksi kritis mengenai tantangan dan peluang hidup bersama di kawasan perbatasan. Tema yang diangkat dalam festival kali ini sangat relevan dengan konteks sosial budaya dan geopolitik serta visi UNWIRA. Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan di Pulau Timor, Indonesia dan Timor-Leste memiliki sejarah, budaya, bahasa, nilai-nilai kekerabatan, dan pengalaman kemanusiaan yang saling terkait,” ungkapnya.
Festival PSA V menghadirkan berbagai kegiatan akademik dan seni budaya, antara lain lomba penulisan artikel jurnal, debat nasional mahasiswa, lomba tari kreasi, lomba paduan suara, lomba dramatisasi Kitab Suci, lomba stand kreatif, diskursus ilmiah, seminar tematik, serta konser musik dan pergelaran seni.
Partisipasi masyarakat dan komunitas seni turut mewarnai pelaksanaan festival tersebut. Salah satunya adalah Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang sejak penyelenggaraan PSA pertama selalu terlibat dalam kegiatan ini.
Eufrasia Samin dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora mengaku senang kembali dilibatkan dalam festival tersebut.
“Kami senang dilibatkan dalam kegiatan semacam ini. Komunitas kami memang berpartisipasi sejak pelaksanaan Philosophia Sapere Aude pertama. Festival ini sangat membantu komunitas kami untuk diperkenalkan kepada masyarakat pembaca lebih luas, khususnya yang berada di Kota Kupang. Sebagai komunitas yang sejak 2011 bergerak di bidang sastra, kami berharap kegiatan semacam ini diadakan lebih sering, agar masyarakat kita punya alternatif acara yang mempertemukan mereka dengan produk-produk kesenian dan kebudayaan, khususnya sastra,” tuturnya.
Antusiasme juga ditunjukkan para mahasiswa peserta lomba. Dela, mahasiswi semester dua Fakultas Filsafat UNWIRA yang mengikuti lomba tari kreasi, menjelaskan bahwa kelompoknya menampilkan Tari Loro Nusa yang mengangkat kisah konflik hingga perdamaian di kawasan perbatasan.
“Kami mengikuti lomba tari kreasi. Kami mengikuti dengan antusias. Tarian kami, yakni tarian Loro Nusa, menceritakan masa-masa konflik di perbatasan hingga pemulihan dan perdamaian. Jadi kami mencoba menggambarkan peristiwa konflik dan perdamaian di perbatasan secara kreatif lewat tarian tersebut,” jelasnya.
Usai membuka festival, Gubernur Melki Laka Lena meninjau sejumlah stand pameran yang menampilkan karya mahasiswa, komunitas literasi, pelaku seni budaya, serta berbagai produk kreatif yang turut memeriahkan kegiatan tersebut. Gubernur berdialog langsung dengan para peserta dan memberikan apresiasi atas kreativitas serta semangat kolaborasi yang ditunjukkan generasi muda.
Melalui Festival Philosophia Sapere Aude V, diharapkan lahir berbagai gagasan, refleksi, dan inisiatif yang mampu memperkuat dialog lintas batas, mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste, serta mendorong terwujudnya kawasan perbatasan yang damai, produktif, dan sejahtera.
Demikian Siaran Pers ini dibuat untuk dipublikasikan. #AyoBangunNTT
Penulis : Oan Wutun
Foto : Dio Ceunfin
Video : Adi Hau
