Dari Kota Kasih, Untuk Ujung Perbatasan
Sabtu, enam belas Mei dua ribu dua puluh enam,
Kupang, sang Kota Kasih, mengirimkan salamnya,
Melintasi jarak, menembus batas wilayah,
Menuju Belu, garda terdepan bumi pertiwi.

Di ujung timur, tempat matahari menyapa duluan,
Rezky Yunike Agustin Frans memimpin rombongan,
Bersama sahabat seperjuangan yang setia,
Malary, Jen Lena, Paulus, Yandri, dan Bang Tumanggor ada di sana.

Langkah kaki itu bukan sekadar singgah sebentar,
Melainkan janji yang ditepati dengan tulus dan ikhlas,
Bahwa perhatian tak pernah memandang jauh atau dekat,
Karena setiap jengkal tanah adalah bagian dari kekuasan.
Disambut hangat oleh Dhoru Vicente dan seluruh jajaran,
Ady Dasi, Margaretha, Godefridus, serta kawan-kawan sejalan,
Di ruang pertemuan, hati dipersatukan dalam satu asa,
Membahas masa depan, mengurai masalah, merangkai cita-cita.
“Perbatasan bukan sekadar garis di peta,
Melainkan wajah bangsa yang harus bersinar nyata.
Kemajuan Belu adalah kebanggaan NTT,
Kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama kita.”
Demikian pesan tegas namun penuh kasih yang disampaikan,
Mengingatkan tugas suci yang diemban di pundak masing-masing,
Bekerja profesional, berpegang teguh pada hukum dan kebenaran,
Menjaga integritas sebagai amanah yang tak ternilai harganya.
Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia berdiri tegak,
Mengawal pembangunan agar transparan dan berpihak rakyat,
Di sini, di gerbang negara, peran harus lebih kuat terasa,
Lebih peduli, lebih melindungi, demi damai sejahtera bersama.
Diskusi berakhir dengan kesepakatan yang kokoh dan terarah,
Semangat persaudaraan kini tumbuh semakin subur dan lebat,
Bukti nyata bahwa LPRI hadir bukan sekadar nama,
Tapi ada, bekerja, dan mengabdi hingga ke pelosok paling ujung nusantara.
Te gas dalam prinsip, lembut dalam melayani,
Membawa harapan baru bagi tanah Belu yang kami cintai,
Langkah ini baru permulaan, kisah panjang masih menanti,
Demi Nusa Tenggara Timur yang makmur dan abadi.
