Perpanjangan Tanggap Darurat Tidak Seragam – Gubernur Melki Pimpin Rapat Evaluasi: Sesuaikan dengan Kondisi Riil Tiap Kabupaten.
KUPANG, klikinfopol.com. 12 September 2026 – Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin rapat evaluasi penanganan tanggap darurat bencana gempa bumi Flores M7,7 secara virtual, Sabtu (12/9/2026). Rapat ini mengevaluasi perkembangan di tujuh kabupaten terdampak sekaligus menetapkan arah kebijakan perpanjangan status tanggap darurat yang tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Diikuti Sekda Fransiskus Sales Sodo, jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, serta para Bupati dan perwakilan kabupaten terdampak, Gubernur menegaskan: keputusan harus berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.
“Perpanjangan masa tanggap darurat di masing-masing kabupaten harus dicermati betul sesuai kondisi di wilayah. Keputusan diambil berdasarkan kebutuhan dan situasi riil, bukan seragam untuk semua,” tegas Gubernur Melki.
Hasil evaluasi menunjukkan langkah yang berbeda-beda di setiap kabupaten:
– Sikka & Manggarai Barat — Resmi mengakhiri masa tanggap darurat per 12 September 2026, memasuki Tahap Transisi ke Pemulihan selama 30 hari ke depan. Wilayah Palue tetap mendapat perhatian khusus; dukungan kapal feri rute Palue–Maumere telah disiapkan untuk memperlancar distribusi bantuan.
– Nagekeo — Memperpanjang tanggap darurat 14 hari hingga 27 September 2026.
– Ngada — Memperpanjang tanggap darurat 3 hari hingga 15 September 2026; pembangunan hunian sementara ditargetkan selesai dalam 1,5 bulan.
– Manggarai Timur — Memperpanjang tanggap darurat 7 hari hingga 19 September 2026.- Ende & Manggarai — Masih melakukan evaluasi; rapat koordinasi malam ini (12/9) akan menentukan keputusan selanjutnya.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang Arief Tyastama melaporkan data pemantauan BMKG hingga 12 September pukul 06.00 WITA:
– Total gempa susulan: 14.857 kejadian
– Magnitudo terbesar: 6,2
– Dirasakan masyarakat: 185 kejadian
– M > 5: 38 kejadian
– Tren harian terus menurun: minggu ke-1 (5.011) → minggu ke-4 (2.421)
“Aktivitas menunjukkan peluruhan konsisten, namun belum berakhir. Masyarakat tetap waspada, hindari bangunan rusak, dan abaikan informasi tidak bertanggung jawab,” imbau Arief.
Gubernur mengingatkan agar anggaran Bantuan Presiden — Rp20 miliar per kabupaten, Rp40 miliar untuk Pemprov NTT, dimanfaatkan secara optimal untuk pemenuhan kebutuhan warga.
Sekda NTT Fransiskus “Hans” Sodo menjelaskan penugasan lintas perangkat daerah:
– Logistik tersalurkan: 40.375 kg beras, ribuan paket sembako, selimut, susu, hygiene kit
– Dinas Perhubungan — Perkuat posko, titik transshipment, dan pengawasan
– Dinas PUPR — Kerahkan SDM & peralatan ke lokasi
– Dinas Sosial — Perlindungan sosial, dapur umum, dukungan psikososial
– Dinas Pendidikan — Siapkan sarana belajar & logistik
– Dinas P3A2KB — Layanan khusus perempuan & anak
– Dinas Kesehatan — Kirim tim medis & psikologis
– Inspektorat — Pendampingan pengawasan di lapangan
– BPBD — Perkuat pengadaan logistik & operasional posko.
Pemprov juga mulai merancang langkah pemulihan jangka panjang:
– Relaksasi utang bagi warga terdampak di bank & koperasi
– Pembebasan UKT mahasiswa dari 7 kabupaten terdampak di seluruh PTN/PTS
– Dukungan dana rehabilitasi & rekonstruksi berdasarkan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P)
“Penanganan tidak boleh berhenti saat tanggap darurat selesai. Pemulihan kehidupan masyarakat harus terus berjalan terukur,” tegas Gubernur Melki.
Gubernur mengapresiasi seluruh pihak — pemerintah kabupaten, BPBD, Forkopimda, relawan, tenaga kesehatan — yang bekerja tanpa kenal lelah sejak hari pertama gempa.
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.
Penulis: Baldus Sae
Editor: Hiro Lukas
