Gubernur Melki: FTZ Perbatasan Bukan Sekadar Gerbang Dagang, Tapi Ubah Perbatasan Jadi Beranda Depan Ekonomi NTT.
KUPANG, 29 Juli 2026 – Rencana pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ) di perbatasan NTT–Timor Leste bukan sekadar wacana, melainkan langkah strategis untuk mengubah wajah wilayah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang merata dan sejahtera. Demikian ditegaskan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat menjadi narasumber dalam diskusi publik Undana Talk bertema “Lintas Batas ke Sabuk Ekonomi: Mampukah FTZ Mengangkat Kesejahteraan Rakyat NTT?” yang digelar Universitas Nusa Cendana bersama Pos Kupang, Rabu (29/7).
Gubernur menegaskan posisi geografis NTT yang berbatasan langsung dengan negara sahabat adalah anugerah yang harus dijalankan dengan perencanaan matang, bukan terburu-buru namun tidak boleh berhenti sekadar di wacana.
“Kita tidak ingin tergesa-gesa tanpa fondasi kuat, tapi kita juga tidak boleh diam. Hubungan kita dengan Pemerintah Timor Leste berjalan sangat baik dan mereka merespons positif gagasan ini. Saat ini kita fokus menyusun studi kelayakan, menentukan batas kawasan, menyusun model ekonomi, hingga memetakan kebutuhan infrastruktur, sambil menunggu regulasi resmi pemerintah pusat,” ujar Gubernur. Target persiapan teknis diharapkan tuntas akhir tahun ini atau paling lambat tahun depan.
Lebih dalam, Gubernur menegaskan FTZ bukan sekadar memudahkan keluar-masuk barang. Langkah ini harus mengubah pola lama NTT yang selama ini hanya mengirim komoditas mentah ke luar daerah. “Kita punya sapi, mete, kopi, rumput laut, tenun, dan hasil bumi lain. Di FTZ nanti, kita harus mengolahnya di sini sendiri. Jadikan produk bernilai tambah, ciptakan lapangan kerja, dan naikkan pendapatan masyarakat,” tegasnya.
Wilayah perbatasan yang selama ini dianggap “wilayah belakang”, harus bertransformasi menjadi “beranda depan Indonesia” yang menghubungkan NTT, Timor Leste, hingga kawasan Pasifik.
Poin paling penting yang ditekankan Gubernur: masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan penonton. “Kami terus melakukan edukasi agar warga siap menghadapi standar perdagangan internasional. Skala ekonomi kita akan naik, cara kerja kita akan berubah, dan masyarakat harus siap menjadi tuan rumah yang mendominasi peluang ini,” ujarnya.
Kepada seluruh pelaku usaha, koperasi, dan UMKM, Gubernur mengajak bersiap sebaik mungkin. “FTZ ini adalah berkat tersembunyi bagi kita semua. Nanti saat kawasan ini beroperasi, pastikan yang bergerak dan mengambil manfaat terbesar adalah putra-putri NTT sendiri,” pungkas Gubernur penuh harap.
Sumber : Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.
Penulis: Baldus Sae
Foto: Dio Ceunfin
Editor : Hiro Lukas
