Bukan Menara Babel, Tapi Tembok Yerusalem: Menjadi Komunitas yang Memanusiakan di Era Digital.
Oleh: Damianus Dionisius Nuwa. (Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)
Klikinfopol.com. Kecerdasan buatan kini hadir di hampir setiap sudut kehidupan kita. Teknologi memudahkan kita bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Namun di tengah segala kemudahan itu, tersimpan tantangan yang tak boleh diabaikan: penyebaran berita bohong, menguatnya perpecahan sosial, memudarnya ruang dialog, serta pandangan yang mulai memandang manusia sekadar sebagai kumpulan data.
Di sinilah Gereja mengingatkan kita: kemajuan teknologi bukan tujuan akhir. Setiap langkah ke depan harus tetap berpusat pada martabat manusia dan kesejahteraan bersama. Paus Leo XIV dalam ensikliknya yang berjudul Magnifica Humanitas mengajak kita merenungkan dua kisah abadi dari Kitab Suci – dua jalan berbeda yang dapat kita pilih dalam membangun peradaban, termasuk di era kecerdasan buatan ini.
Sindrom Babel: Ketika Kemajuan Kehilangan Arah.
Kisah Menara Babel sering kita pahami sebagai asal-usul keragaman bahasa. Namun inti pesannya jauh lebih dalam: bukan soal apa yang kita bangun, melainkan dari motivasi apa kita membangunnya. Orang-orang Babel berkata: “Marilah kita dirikan sebuah kota dengan menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama.” Ambisi untuk “mencari nama” membuat manusia menempatkan dirinya di pusat segalanya. Keberhasilan diukur dari seberapa besar karya yang dibangun, bukan seberapa besar manfaatnya bagi sesama.
Inilah yang disebut Sindrom Babel. Terkadang kita begitu terpesona oleh kecepatan, efisiensi, dan kecanggihan teknologi sehingga lupa pada manusia yang seharusnya dilayani. Ketika teknologi hanya digunakan untuk memperkuat kekuasaan, memperbesar keuntungan, atau bahkan memanipulasi informasi, kita sedang membangun menara Babel zaman sekarang. Kemajuan tanpa kompas moral akhirnya justru menjauhkan kita satu sama lain.
Jalan Nehemia: Membangun Bersama dari Hati.
Berbeda dengan Babel, kisah Nehemia menawarkan jalan pembangunan yang lain. Ketika mendengar tembok Yerusalem hancur, Nehemia tidak langsung menyusun rencana besar. Ia berdoa, berpuasa, merenung, lalu mengajak seluruh umat untuk terlibat bersama. Setiap orang memiliki bagian, setiap orang berkontribusi. Ia tidak hanya membangun tembok batu, tetapi juga membangun kembali kepercayaan, keadilan, dan rasa kebersamaan di antara umat. Pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembaruan hati.
Inilah model yang sangat dibutuhkan Gereja saat ini. Memanfaatkan teknologi itu baik, tetapi teknologi tanpa kasih sayang tidak akan pernah cukup. Kehadiran digital tidak boleh menggantikan kehadiran fisik; pesan singkat tidak boleh menggantikan percakapan yang tulus; jaringan media sosial tidak boleh menggantikan jaringan persaudaraan yang nyata.
Komunitas Umat Basis: Sekolah Hidup di Tengah Dunia Berubah.
Perubahan zaman ini paling dirasakan di tingkat paling dasar – Komunitas Umat Basis (KUB). Di sinilah iman dihidupi sehari-hari, dan di sinilah tantangan digital juga terasa paling dekat. Maka KUB dipanggil untuk menjadi:
✅ Ruang Perjumpaan yang Tak Tergantikan.
Komunikasi digital memang praktis, tetapi tidak dapat menggantikan kehangatan pertemuan tatap muka. Doa bersama, pendalaman Kitab Suci, dan berbagi kisah hidup harus tetap menjadi jantung kehidupan komunitas. Teknologi adalah jembatan, bukan pengganti kehadiran.
✅ Ruang Literasi Digital yang Berakar pada Iman.
Banyak informasi yang diterima umat belum tentu benar atau sehat. Komunitas perlu menjadi ruang belajar bersama: membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan, menghormati perbedaan pendapat, dan berkomunikasi dengan kasih. Membina iman saat ini juga berarti membina etika digital yang berakar pada Injil.
✅ Ruang Solidaritas yang Tak Meninggalkan Siapa Pun.
Tidak semua orang beruntung mampu beradaptasi dengan cepat. Ada lansia yang kesulitan layanan digital, anak-anak yang berisiko kecanduan gawai, dan keluarga yang kesepian meski terhubung dunia maya. Komunitas yang sehat adalah mereka yang saling mendampingi agar tidak ada seorang pun yang tertinggal.
✅ Ruang Kepemimpinan yang Mendengarkan.
Pemimpin komunitas bukanlah sekadar pengelola kegiatan, melainkan pendengar yang mengajak semua orang berjalan bersama. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar, kehadiran pemimpin yang menenangkan dan mempersatukan menjadi anugerah yang tak ternilai.
Penutup :
Kita Memilih Jalan yang Mana?
Kita tidak bisa dan tidak boleh menolak kemajuan zaman. Namun kita selalu punya pilihan: apakah kita membangun seperti Babel – canggih, megah, tetapi terpisah satu sama lain? Atau kita membangun seperti Nehemia – sederhana namun kokoh, berakar pada doa, kebersamaan, dan kepedulian terhadap yang lemah?
Ketika Komunitas Umat Basis menjadi ruang di mana teknologi memperkuat persaudaraan, bukan menggantikannya; di mana informasi disaring dengan kebijaksanaan iman; di mana yang lemah didampingi dan tidak ditinggalkan – maka kita sedang memilih jalan Nehemia. Kita sedang membangun bukan menara kebanggaan, melainkan rumah yang hangat bagi semua anak Allah.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan: apakah teknologi itu membantu kita menjadi semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin setia melayani sesama? Di sanalah misi pastoral kita menemukan maknanya yang paling mendalam.(*)
Editor: Hiro Lukas
