Atambua: “Lilin Kecil Perdamaian” untuk Dunia, Festival Persahabatan Internasional Resmi Dimulai.

IMG_20260702_055402_292

ATAMBUA, 1 Juli 2026 – Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan menyelimuti Aula Betelalenok, Atambua, Rabu malam. Acara Friendship Dinner menandai peresmian Festival Persahabatan Internasional 2026, perhelatan akbar yang membawa pesan damai dari perbatasan Indonesia-Timor Leste ke seluruh dunia.

Festival yang berlangsung 2–5 Juli di Lapangan Umum Atambua ini mempertemukan tokoh lintas agama, pemerintah, delegasi internasional dari Kanada, serta ribuan warga dengan semangat: “Kesembuhan Ilahi bagi Semua Orang”.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma memberikan apresiasi luar biasa. Hanya berselang tiga hari setelah sukses menggelar Festival Fulan Fehan, Belu kembali membuktikan diri di panggung internasional.

“Dunia sedang gelap oleh konflik dan perang. Apa yang kalian lakukan di sini adalah lilin kecil di tengah kegelapan dunia. Perbatasan bukan lagi tanda batas, melainkan jembatan persahabatan yang patut direnungkan seluruh umat manusia,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dampak ekonomi nyata: 100 UMKM lokal dilibatkan, membawa manfaat langsung bagi kesejahteraan warga Belu.

Bupati Belu Willybrodus Lay menyambut hangat seluruh tamu.

“Nama daerah ini sendiri artinya Sahabat. Jadi menggelar festival persahabatan di sini bukan kebetulan, pasti ada campur tangan Yang Mahakuasa,” ujarnya penuh haru.

Festival lahir dari doa bersama masyarakat perbatasan dan tim pelayanan Anthony Greco dari Kanada. Diperkirakan 8.000–10.000 orang akan hadir setiap hari, merajut persaudaraan tanpa sekat.

Ketua Majelis Pertimbangan PGI Pendeta Gomar Gultom menilai momen ini sangat vital.

“Di era digital, persahabatan makin tipis dan sering jadi transaksional. Kita butuh kembali ke pertemuan nyata, kebersamaan sejati. Semoga Atambua benar-benar menjadi Kota Persahabatan yang sesungguhnya,” harapnya.

Sementara Anthony Greco dari Calgary Life Church, Kanada, yang telah berkunjung ke 50 negara, mengaku belum pernah merasakan penerimaan sehangat ini.

“Orang bodoh memulai pertengkaran, orang bijak membangun persahabatan. Kami datang membawa pesan kasih yang menyambut semua orang tanpa syarat,” katanya.

FKUB Kabupaten Belu menegaskan perbatasan adalah tolok ukur toleransi bangsa. Sinergi erat antara pemerintah dan tokoh agama menjadi bukti nyata: persatuan adalah kekuatan terbesar menjaga damai dan keutuhan negeri.

 

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.

Penulis: Mario Lawi

Foto-Video: Riky

Editor: Hiro Lukas