Jangan Biarkan Orang Lain Ceritakan Program Kita – Sekda Frans: ASN Harus Jadi Penyampai Informasi Utama.
KUPANG, klikinfopol.com. 23 September 2026 – Era di mana ASN cukup membuat laporan dan menyimpannya di laci sudah berakhir. Kini, aparatur pemerintah dituntut mampu mengubah data kebijakan menjadi bahasa yang dipahami masyarakat, menyampaikan program secara jujur dan tepat waktu, sekaligus menjawab umpan balik warga secara cepat.
Itulah semangat yang menggelora di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT, saat dibukanya Workshop Fasilitasi Teknis Kepemimpinan & Komunikasi Kebijakan yang berlangsung 23–25 September 2026. Kegiatan ini digagas Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT bekerja sama dengan SKALA dan Kompas Institute, diikuti 40 ASN dari berbagai perangkat daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Frans Sales Sodo, menegaskan urgensi ini. Program sebaik apa pun tidak akan terasa manfaatnya jika masyarakat tidak paham atau tidak menerima informasinya.
“Kita ingin program diketahui dan dipahami masyarakat, sekaligus mendengar tanggapan mereka. Data mentah harus diolah menjadi narasi yang dapat dipercaya. Jika tidak kita sampaikan dengan benar, orang lain yang akan mengisahkannya, dan belum tentu benar,” tegas Sekda Frans.
Ia mengungkapkan, Pemprov NTT sedang membangun sistem pemantauan berbasis aplikasi yang terhubung secara langsung dengan seluruh perangkat daerah. Gubernur dapat memantau kinerja dari perencanaan hingga evaluasi secara real-time. Namun di samping data, komunikasi yang menyentuh hati tetap menjadi kunci utama.
Narasumber dari Kementerian PPN/Bappenas, Riya Farwati, mengingatkan ASN untuk tidak terjebak dalam istilah yang hanya dimengerti kalangan sendiri.
“Pikirkan siapa yang menerima informasi. Sesuaikan bahasa, gaya, dan cara penyampaian. Jangan biarkan kecerdasan buatan (AI) menggantikan akal sehat dan rasa kemanusiaan kita. Tetap pahami substansi, jaga etika, pastikan data benar, baru sampaikan,” pesannya.
Vipul Khosla dari SKALA juga menekankan: komunikasi pemerintah bukan lagi satu arah.
“Informasi bukan diturunkan dari atas ke bawah. Masyarakat harus ditempatkan di pusat. Sampaikan jujur, tepat waktu, transparan, dan dengarkan jawaban mereka.”
Pada hari pertama, para peserta langsung dibekali kemampuan praktis penulisan jurnalistik oleh praktisi media Budi Suwarna dan Frans Pati Herin.
Budi menegaskan: setiap pernyataan pemerintah harus didukung data yang akurat dan dapat diverifikasi. Sementara Frans mengajak ASN bertransformasi, meninggalkan gaya tulisan birokratis yang kaku, menjadi tulisan yang tajam, substansial, dan memikat perhatian publik. Para peserta pun langsung berlatih menyusun siaran pers.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Yohanes Abrianto Kore, menjelaskan kegiatan ini sejalan dengan arahan pimpinan daerah: setiap perangkat daerah wajib mempublikasikan kegiatan setiap minggu, baik berupa siaran pers, foto, maupun video, agar masyarakat tahu apa yang sedang dikerjakan pemerintah.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini tentang membangun kepercayaan. Ketika rakyat tahu, paham, dan merasa dilibatkan, pembangunan akan berjalan lebih kokoh,” ujar Abrianto.
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.
Penulis: Meldo Nailopo
Foto: Windi
Editor: Hiro Lukas
