Jejak 68 Tahun Pembangunan NTT dari 1958 Hingga Kini: Dari “Semua Kesulitan Dipecahkan” Hingga “Ayo Bangun NTT”- Jejak Pemimpin yang Melanjutkan, Memperkuat, dan Menyempurnakan.
KUPANG, klikinfopol.com. 16 September 2026 – Sejak resmi berdiri sebagai provinsi pada 20 Desember 1958, perjalanan Nusa Tenggara Timur tidak pernah berjalan sendirian. Ia adalah sebuah estafet kepemimpinan: setiap Gubernur meletakkan batu fondasi, lalu diserahkan kepada penerusnya untuk diperluas, diperkuat, dan disempurnakan. Membaca sejarah para pemimpin NTT bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami bagaimana kita sampai di titik ini.
1958–1966: William Johanes Lalamentik- Membangun Provinsi dari Awal.
Putra kelahiran Minahasa ini memulai segalanya dengan motto: “Semua kesulitan itu ada untuk dipecahkan.” Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, ia menata 12 Daerah Tingkat II dan membentuk kecamatan agar pelayanan pemerintahan menjangkau pulau-pulau yang terpisah. Lalamentik tidak membangun gedung-gedung megah, melainkan kerangka pemerintahan yang menjadi pijakan bagi seluruh penerusnya.
1966–1978: El Tari – “Tanam, Tanam, Sekali Lagi Tanam”.
Putra Sabu berlatar belakang militer ini menanamkan jiwa pembangunan dari akar: desa, pertanian, pangan, dan penghijauan. Slogannya bukan sekadar seruan, melainkan cara hidup: bangun dari tanah sendiri. Ia meninggal dunia saat masih menjabat pada 29 April 1978, namun namanya abadi – Bandara El Tari, jalan, dan ruang publik mengingatkan kita: perubahan dimulai dari apa yang kita tanam hari ini.
1978: Wang Suwandi — Penjaga Kesinambungan.
Masa jabatan singkat Wang Suwandi mengajarkan: pemerintahan tidak boleh terputus. Ia menjaga roda tetap berputar hingga gubernur definitif hadir – peran yang sering tak tampak, namun sangat krusial.
1978–1988: Ben Mboi – Sehat, Makmur, Hijau.
Dokter sekaligus perwira militer ini membawa Panca Program: Operasi Nusa Makmur, Nusa Hijau, Nusa Sehat, pendidikan, dan koperasi. Baginya, kemiskinan tak bisa diatasi dari satu sisi saja – ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan harus berjalan beriringan. Koperasi Unit Desa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
1988–1993: Hendrikus Fernandez – Kembangkan Potensi Sendiri.
Dokter yang akrab disapa No Endi mengajak rakyat mengenali kekuatan di sekitar mereka. Melalui GEMPAR dan GERBADES, ia menegaskan: kesejahteraan bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari tanah, keterampilan, dan komoditas yang dimiliki masyarakat sendiri. Desa menjadi pusat pertumbuhan.
1993–1998: Herman Musakabe – Tenun sebagai Identitas & Ekonomi.
Tujuh Program Strategisnya membuka cakrawala baru: SDM, kemiskinan, ekonomi, teknologi, ruang, konektivitas, pariwisata. Warisan yang paling nyata: menjadikan tenun ikat NTT sebagai kebanggaan sekaligus sumber penghidupan. Aparatur mengenakan tenun bukan sekadar pakaian, melainkan membuka pasar bagi perajin – mayoritas perempuan – di seluruh pelosok NTT.
1998–2008: Piet Alexander Tallo – Tiga Batu Tungku.
Putra Tefas, TTS, berlatar belakang hukum ini meletakkan gagasan yang tetap hidup hingga kini: Ekonomi Rakyat, Pendidikan Rakyat, Kesehatan Rakyat. Tiga tungku harus menyala bersama – satu saja tak cukup menghangatkan rumah. Pembangunan bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari kekuatan rakyat itu sendiri.
2008–2018: Frans Lebu Raya – Anggur Merah, Dana Langsung ke Desa.
Dua periode kepemimpinannya ditandai Desa Mandiri Anggur Merah: Rp250 juta per desa untuk kegiatan ekonomi produktif. Dana bergulir, masyarakat bergerak. Hingga 2017, Rp 817,5 miliar mengalir ke 3.270 desa. Pembangunan bukan hanya gedung, melainkan memberi warga kesempatan menggerakkan ekonominya sendiri.
2018: Robert Simbolon – Jembatan Peralihan.
Penjabat Gubernur yang memastikan pemerintahan tetap tertib di masa pergantian. Mengingatkan bahwa estafet tak selalu gemilang – ada masa tenang yang menjaga kesinambungan.
2018–2023: Viktor Laiskodat – Turun ke Lapangan, Tanam Jagung Panen Sapi.
Kepemimpinan lapangan, pariwisata sebagai penggerak utama, dan TJPS yang mengintegrasikan pertanian dan peternakan. Pemimpin hadir langsung di tengah masyarakat, melihat fakta, memastikan kebijakan tak berhenti di atas kertas.
2023–2025: Dua Kali Transisi – Ayodhia Kalake & Andriko Noto Susanto
Dua Penjabat Gubernur menjaga roda tetap berputar, mengawal Pilkada Serentak 2024, hingga lahirnya pemerintahan definitif berikutnya. Transisi bukan kekosongan, melainkan persiapan untuk melangkah lebih jauh.
2025–2030: Melki Laka Lena – Johni Asadoma: “Ayo Bangun NTT”.
Kini estafet berada di tangan pasangan ini. Visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, Berkelanjutan menegaskan: tidak memutus masa lalu, melainkan membangun di atas fondasi yang diletakkan para pendahulu. Hadir lebih dekat ke masyarakat, ukur keberhasilan dari manfaat yang dirasakan warga, dan terus melangkah bersama.
Satu Perjalanan, Banyak Tangan:
“Setiap Gubernur meletakkan bagiannya. Tak ada yang memulai dari nol, dan tak ada yang menyelesaikan segalanya. NTT dibangun oleh tangan yang bergantian memegang obor, lalu menyerahkannya kepada yang berikutnya.”
68 tahun bukan sekadar rentang waktu. Ia adalah kebersamaan dalam perjuangan – dari Lalamentik yang menata wilayah, El Tari yang menanam harapan, hingga Melki–Johni yang mengajak: Ayo Bangun NTT.
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Pemerintah Provinsi NTT.
Penulis: Oan Wutun
Editor: Hiro Lukas
