“Wajah Tuhan Hadir di Tengah Penderitaan” – Surat Gembala Uskup Agung Ende Penuh Harapan & Kasih.
NDONA, ENDE, klikinfopol.com. – 13 September 2026 – Di tengah luka yang masih terasa segar pascagempa, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, mengeluarkan Surat Gembala khusus yang menyentuh hati seluruh umat. Bertema “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan” (Mzm. 27:8), surat tertanggal 12 September 2026 ini mengingatkan: bencana bukan hukuman Tuhan — melainkan panggilan untuk saling menguatkan, berbagi, dan membangun kembali harapan bersama.
“Di tengah penderitaan ini, Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya. Wajah Tuhan tampak nyata di mata mereka yang kehilangan, di tenda pengungsian, di anak-anak yang trauma, serta di tangan-tangan yang mengulurkan bantuan,” tegas Uskup Agung.
Menjelang Pesta Pemuliaan Salib Suci, Keuskupan Agung Ende menetapkan empat panduan nyata bagi seluruh umat:
1. Hentikan Pesta, Alihkan Dana untuk Sesama.
Seluruh pesta penyerta acara keagamaan, Komuni Pertama, Pernikahan, Tahbisan Imam, Ulang Tahun Paroki, wajib ditiadakan atau disederhanakan maksimal. Anggarannya dialihkan untuk pemulihan keluarga dan biaya pendidikan anak-anak yang terdampak.
2. Cegah Bencana Sosial: Adil, Bukan Sekadar Sama Rata.
Distribusi bantuan harus berbasis kebutuhan dan prioritas, bukan sekadar pembagian rata. “Setelah bencana alam, jangan biarkan muncul bencana sosial berupa perpecahan dan iri hati di antara kita,” pesan Uskup.
3. Ibadah Tetap Berjalan, Asal Aman dan Teratur.
Sakramen tetap dilaksanakan, namun hanya di tempat yang dipastikan aman dan layak, di bawah arahan pastor paroki masing-masing.
4. Bersinergi Penuh dengan Pemerintah
Gereja berfokus pada tiga pilar pendampingan: pemulihan jiwa (trauma healing), penguatan ekonomi warga, serta dukungan pembangunan hunian dan fasilitas yang aman gempa.
Uskup Agung menyampaikan apresiasi mendalam kepada:
– Tim Tanggap Darurat Keuskupan Agung Ende di bawah Romo Reginald Piperno Bego
– Caritas Indonesia dan seluruh relawan
– Pemerintah, keuskupan tetangga, serta para donatur
Tim Tanggap Darurat akan terus mengawal proses hingga terbentuk Tim Pemulihan Pascagempa secara resmi.
“Kita tidak berjalan sendirian. Bergandengan tangan, kita bangkit kembali, lebih kuat, lebih peduli, dan lebih teguh dalam iman,” ajak seluruh umat.
Flores berduka, tetapi Flores tidak menyerah. Sebagaimana cahaya menembus kegelapan, harapan akan tumbuh kembali dari reruntuhan, karena kita berdiri bersama.(*)
Editor: Hiro Lukas
