Senyum Putri Rote yang Tak Kembali – Selamat Jalan, Wili Mbuik.

IMG_20260913_213934_439

BA’A, klikinfopol.com. 13 September 2026 – Isak tangis mengiringi perjalanan terakhir Nona Wili Mbuik, S.P. (26 tahun). Putri terbaik Rote Ndao, lulusan cerdas berprestasi yang mengabdi sebagai ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dimakamkan secara kenegaraan di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Minggu (13/9/2026). Ia gugur bersama dua rekan lainnya, Aprida Rapi dan drh. Alfonsius Albinus Mehan, saat menjalankan tugas menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat pedalaman Distrik Muliama yang diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Ratusan warga, jajaran Pemprov NTT, Pemkab Rote Ndao, unsur Forkopimda, tokoh adat, dan pemuda berduka bersama keluarga yang ditinggalkan.

Wili Mbuik bukan sekadar nama. Ia lulusan beasiswa Bidikmisi Universitas Nusa Cendana, Program Studi Agribisnis, meraih predikat Cum Laude dengan IPK 3,55. Sejak diangkat menjadi CPNS delapan bulan lalu, setiap bulan ia tak pernah lupa menyisihkan gajinya untuk sang ayah yang sudah tua di Rote Ndao.

Ia pergi ke Papua bukan untuk kekuasaan, melainkan menanam harapan: membantu warga pedalaman mandiri pangan. Namun mimpi itu terhenti tragis.

“Wili dan tim ke Muliama bukan mengangkat senjata. Mereka membawa misi kemanusiaan, mengantar bantuan demi kesejahteraan rakyat. Ia gugur sebagai martir pelayanan publik, bertaruh nyawa agar perut masyarakat terpenuhi,” tegas Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma di hadapan pemakaman.

Perwakilan keluarga, Eran Sipa, melukiskan duka dalam syair adat Rote yang menyayat hati:

“Sungguh indah hari yang pernah kita lalui bersama, bagai bunga mekar wangi. Kini anak kita gugur, ditiup angin hingga layu. Ia tak kembali, namun keharuman namanya abadi.”

Di tengah duka, suara lantang keluarga mengguncang hadirin. Ada 4–5 orang warga desa mereka yang masih berada di Jayawijaya, kini diteror dan tak berani keluar rumah, hanya terlindungi oleh pendeta warga setempat.

“Kami ikhlas melepas Wili. Tapi kami titipkan keselamatan adik-adik kami yang masih di sana kepada Pemerintah,” ucap perwakilan keluarga sambil menahan tangis.

“Cukup sudah. Kami tidak mau ada korban berikutnya. Wili adalah yang terakhir.”

Permohonan itu diterima langsung oleh Wagub Johni. Ia menegaskan: kematian Wili harus menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan.

“Berapa lagi sarjana muda, dokter, guru, penyuluh pertanian harus gugur di sana? Suara dan keselamatan warga sipil yang tidak bersenjata tidak boleh diabaikan,” serunya.

Pemprov NTT berjanji akan berupaya sekuat tenaga memastikan keselamatan seluruh warga NTT yang masih berada di daerah konflik, serta memenuhi hak-hak almarhumah dan keluarganya.

Pemakaman ini bukan sekadar perpisahan, melainkan panggilan untuk menjaga setiap putra-putri terbaik bangsa yang rela pergi ke pelosok negeri demi mengabdi.

“Senyum ramah putri Rote yang cerdas ini telah tiada. Tapi ketulusan, keberanian, dan dedikasinya akan terus hidup, memanggil kita untuk tak pernah lelah mencintai kemanusiaan,” tutup Wagub Johni.

Beristirahatlah dengan tenang, Wili. Pengabdianmu tak akan dilupakan.

 

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.

Penulis: Agustin Luju

Foto: Nuel

Editor: Hiro Lukas