Perpanjangan Tanggap Darurat Tidak Seragam – Gubernur Melki Pimpin Rapat Evaluasi: Sesuaikan dengan Kondisi Riil Tiap Kabupaten.

IMG_20260912_185156_971

KUPANG, klikinfopol.com. 12 September 2026 – Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin rapat evaluasi penanganan tanggap darurat bencana gempa bumi Flores M7,7 secara virtual, Sabtu (12/9/2026). Rapat ini mengevaluasi perkembangan di tujuh kabupaten terdampak sekaligus menetapkan arah kebijakan perpanjangan status tanggap darurat yang tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Diikuti Sekda Fransiskus Sales Sodo, jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, serta para Bupati dan perwakilan kabupaten terdampak, Gubernur menegaskan: keputusan harus berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.

“Perpanjangan masa tanggap darurat di masing-masing kabupaten harus dicermati betul sesuai kondisi di wilayah. Keputusan diambil berdasarkan kebutuhan dan situasi riil, bukan seragam untuk semua,” tegas Gubernur Melki.

Hasil evaluasi menunjukkan langkah yang berbeda-beda di setiap kabupaten:

–  Sikka & Manggarai Barat — Resmi mengakhiri masa tanggap darurat per 12 September 2026, memasuki Tahap Transisi ke Pemulihan selama 30 hari ke depan. Wilayah Palue tetap mendapat perhatian khusus; dukungan kapal feri rute Palue–Maumere telah disiapkan untuk memperlancar distribusi bantuan.

– Nagekeo — Memperpanjang tanggap darurat 14 hari hingga 27 September 2026.

– Ngada — Memperpanjang tanggap darurat 3 hari hingga 15 September 2026; pembangunan hunian sementara ditargetkan selesai dalam 1,5 bulan.

– Manggarai Timur — Memperpanjang tanggap darurat 7 hari hingga 19 September 2026.- Ende & Manggarai — Masih melakukan evaluasi; rapat koordinasi malam ini (12/9) akan menentukan keputusan selanjutnya.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang Arief Tyastama melaporkan data pemantauan BMKG hingga 12 September pukul 06.00 WITA:

– Total gempa susulan: 14.857 kejadian

– Magnitudo terbesar: 6,2

– Dirasakan masyarakat: 185 kejadian

– M > 5: 38 kejadian

– Tren harian terus menurun: minggu ke-1 (5.011) → minggu ke-4 (2.421)

“Aktivitas menunjukkan peluruhan konsisten, namun belum berakhir. Masyarakat tetap waspada, hindari bangunan rusak, dan abaikan informasi tidak bertanggung jawab,” imbau Arief.

Gubernur mengingatkan agar anggaran Bantuan Presiden — Rp20 miliar per kabupaten, Rp40 miliar untuk Pemprov NTT, dimanfaatkan secara optimal untuk pemenuhan kebutuhan warga.

Sekda NTT Fransiskus “Hans” Sodo menjelaskan penugasan lintas perangkat daerah:

–  Logistik tersalurkan: 40.375 kg beras, ribuan paket sembako, selimut, susu, hygiene kit

–  Dinas Perhubungan — Perkuat posko, titik transshipment, dan pengawasan

–  Dinas PUPR — Kerahkan SDM & peralatan ke lokasi

–  Dinas Sosial — Perlindungan sosial, dapur umum, dukungan psikososial

–  Dinas Pendidikan — Siapkan sarana belajar & logistik

–  Dinas P3A2KB — Layanan khusus perempuan & anak

–  Dinas Kesehatan — Kirim tim medis & psikologis

–  Inspektorat — Pendampingan pengawasan di lapangan

–  BPBD — Perkuat pengadaan logistik & operasional posko.

Pemprov juga mulai merancang langkah pemulihan jangka panjang:

–  Relaksasi utang bagi warga terdampak di bank & koperasi

–  Pembebasan UKT mahasiswa dari 7 kabupaten terdampak di seluruh PTN/PTS

–  Dukungan dana rehabilitasi & rekonstruksi berdasarkan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P)

“Penanganan tidak boleh berhenti saat tanggap darurat selesai. Pemulihan kehidupan masyarakat harus terus berjalan terukur,” tegas Gubernur Melki.

Gubernur mengapresiasi seluruh pihak — pemerintah kabupaten, BPBD, Forkopimda, relawan, tenaga kesehatan — yang bekerja tanpa kenal lelah sejak hari pertama gempa.

 

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.

Penulis: Baldus Sae

Editor: Hiro Lukas