Yang Datang Bukan untuk Mengambil, Tapi untuk Mengabdi — Mengenang Tiga Pahlawan Kemanusiaan di Tanah NTT.
OPINI, Klikinfopol.com. – Di tengah dunia yang sibuk mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki dan dipamerkan, tiga sosok ini justru meninggalkan segalanya — negeri asal, kenyamanan, bahkan masa depan keluarga — demi melayani mereka yang terpandang “terkucil”. Mereka adalah Mama Putih, Mama Hitam, dan Pastor Paul Goote, SVD. Tiga nama yang tak mungkin dilupakan oleh kaum kusta dan masyarakat Flores, Lembata, Alor, serta Timor.
Di Tengah Krisis Kesadaran, Mereka Memilih Penyangkalan Diri.
Tulisan ini bermula dari sebuah renungan yang dikirim di tengah perayaan Pesta Santa Klara — orang kudus yang meninggalkan kekayaan dan status untuk hidup dalam kemiskinan, kerendahan hati, dan pelayanan total. Pesannya sederhana namun menohok: “Hati yang bebas tidak mudah dibeli.”
Di era yang mengagungkan kemewahan, kesuksesan materi, dan kepentingan diri sendiri, semangat penyangkalan diri dan pengabdian tanpa pamrih terasa semakin asing. Padahal, tanpa kesadaran diri yang otentik dan penyangkalan diri dari kelekatan duniawi, pelayanan apa pun pada akhirnya akan menjadi kosong.
“Manusia lahir tidak pernah untuk dirinya sendiri. Kerelaan berbagi dengan sesama karena kasih justru membuat pribadinya makin kaya.”
Tiga Sosok, Satu Semangat: Mengabdi Tanpa Batas untuk Kaum Kusta
Mama Putih — Gizela Borowka (1968–1987)
Datang dari negeri Jerman, ia memilih tidak pulang. Mengikuti jejak St. Damian sang pelindung kaum kusta, Mama Putih mengabdikan hidupnya di Lembata, lalu Alor — melayani para penderita kusta yang dikucilkan masyarakat. Ia menjadi Warga Negara Indonesia, melepas kewarganegaraan asalnya demi tetap tinggal di tengah mereka. Penghargaan mengalir — dari Pemerintah Jerman, Sidomuncul Semarang, hingga Kick Andy Award — namun ia tetap sederhana, tanpa pernah menuntutnya.
Mama Hitam — Izabela Diaz Gonzales.
Dari negeri asing pula, ia melepaskan impian berkeluarga dan mencurahkan seluruh hidupnya untuk melayani kaum kusta di Lembata. Bersama Mama Putih, ia membangun Rumah Sakit Lepra di Lomblen — tempat yang layak bagi mereka yang dianggap “terkutuk”. Ia pun menerima banyak penghargaan internasional dan nasional, namun baginya, penghargaan tertinggi adalah senyum dan kesembuhan mereka yang dilayani.
Pastor Paulus Goote, SVD.
Biarawan misionaris yang tidak hanya berkhotbah dari mimbar, tetapi membawa altar ke tengah kehidupan kaum miskin dan terpinggirkan. Kebenaran yang ia wartakan bukan sekadar teori, melainkan tindakan nyata, pilihan hidup untuk yang paling kecil, yang paling terlupakan.
Pelajaran Paling Berharga: Kesadaran dan Totalitas Pengabdian.
Ketiga sosok ini mengajarkan kita hal yang paling langka di masa kini: totalitas tanpa pamrih. Mereka mengabdi tanpa jam kerja, tanpa menghitung imbalan, tanpa meminta pengakuan. Penghargaan memang datang — tetapi itu bukan tujuan mereka.
“Tanpa dedikasi yang tinggi dan kesadaran total akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab, maka pelayanan manusia akan menjadi sia-sia belaka, nirmakna.”
Ini menjadi cermin tajam bagi kita semua — terutama bagi mereka yang memegang jabatan, mengelola kepercayaan publik, atau menyandang gelar pelayan masyarakat. Jika pelayanan hanya dijalankan demi kepentingan diri sendiri, maka ia tidak berbeda dengan perdagangan.
Warisan yang Tak Boleh Pudar.
Mereka datang dari negeri jauh, namun menjadi lebih “lokal” daripada kita yang lahir di sini. Mereka meninggalkan kenyamanan, namun memberikan kenyamanan bagi mereka yang tak punya tempat bernaung. Mereka tidak meminta apa-apa, namun justru merekalah yang paling kaya — karena kasih yang mereka berikan terus hidup di hati ribuan orang yang mereka layani.
Mereka datang bukan untuk mengambil, melainkan untuk mengabdi. Dan itulah sebabnya, nama mereka tetap abadi — jauh lebih abadi daripada nama-nama yang terukir di gedung-gedung mewah.
Semoga kisah ketiganya terus menjadi cahaya yang mengingatkan: nilai hidup seseorang tidak diukur dari apa yang ia kumpulkan, melainkan dari apa yang ia berikan. (*)
Editor: Hiro Lukas
