“Melecehkan Profesi Guru di Ruang Publik” — Ketua IJEN NTT Desak Pemkab Malaka Copot Camat Laenmanen.
KUPANG, klikinfopol.com. 5 September 2026. Insiden keributan yang melibatkan Camat Laenmanen, Ferdy Maan, dengan seorang guru, Dominikus Nahak Klau, di Rumah Makan Bunda Kanduang, Betun, Kabupaten Malaka, kini memicu desakan keras agar pejabat tersebut ditindak tegas. Ketua IJEN NTT, Lodi Lukas, secara tegas menyatakan perilaku yang ditunjukkan Camat Laenmanen telah mencoreng citra birokrasi dan merendahkan martabat profesi guru.
Kejadian berawal pada Rabu (2/9/2026) sore sekitar pukul 16.00 WITA, saat Dominikus Nahak Klau, guru PJOK SMP Kristen Besikama, datang ke rumah makan tersebut untuk membantu kakaknya mengecek rekaman CCTV, karena dompet kakaknya diduga tertinggal saat makan siang. Namun, proses itu justru mendapat penolakan keras dan ucapan yang merendahkan dari Camat Laenmanen.
Video adu mulut itu menyebar luas di media sosial, menampilkan arogansi sang camat yang menganggap remeh profesi guru di hadapan pengunjung rumah makan.
Pernyataan Tegas Ketua IJEN NTT: “Mungkin Sang Camat Tidak Pernah Mengenal Etika”
Ketua IJEN NTT, Lodi Lukas, menyampaikan pernyataan kerasnya pada Sabtu (5/9/2026):
“Perilaku yang diperlihatkan Camat Laenmanen terhadap seorang guru, Dominikus Nahak Klau, di rumah makan Betun, Kabupaten Malaka, menjadi citra buruk bagi seorang aparat birokrasi. Mungkin saja si sang camat tidak pernah duduk di bangku sekolah dan tidak pernah diajarkan beretika serta sopan santun.”
Lodi menegaskan, persoalan pribadi adalah urusan lain. Namun menyebut profesi guru dengan nada merendahkan serta menunjukkan arogansi saat menggantung lambang Garuda di dada, itulah yang mencoreng nama baik birokrasi.
“Melecehkan profesi guru di ruang publik akan menjadi catatan litani generasi ke generasi, bahwa pendidikan salah diterjemahkan oleh sang camat.”
Lodi Lukas mendesak Pemerintah Kabupaten Malaka untuk tidak berdiam diri:
“Pemkab Malaka harus bertindak tegas dan berani bersikap, mencopot sang camat dari jabatannya, agar institusi birokrasi di Kabupaten Malaka jangan ikut terseret ke dalam kubangan ini.”
Ia juga meminta organisasi profesi guru untuk tidak tinggal diam:
“Organisasi guru juga harus ikut bersuara dan memberikan advokasi kepada guru, jangan biarkan mereka berjalan sendiri. Agar ini menjadi pembelajaran berharga: kita bisa jadi hebat, pintar, dan besar, semata karena GURU.”
Sementara itu, Dominikus Nahak Klau justru menunjukkan jiwa besar, ia memilih tidak melaporkan ke polisi dan memberi ruang klarifikasi secara kekeluargaan. Namun, PGRI Kabupaten Malaka juga telah menyuarakan desakan serupa: meminta Pemkab Malaka memanggil dan menjatuhkan sanksi terberat hingga pencopotan jabatan Camat Laenmanen jika terbukti merendahkan profesi guru.
Di tengah kemelut ini, satu hal yang menjadi kesepakatan banyak pihak: guru adalah fondasi bangsa. Merendahkan profesi guru sama dengan merendahkan pendidikan dan masa depan daerah itu sendiri. Bagi IJEN NTT, desakan ini bukan sekadar membela satu orang, ini membela kehormatan seluruh pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Editor: Hiro Lukas
