Dasa Cita ke-3: Wisata NTT Tak Sekadar Jumlah Kunjungan, Tapi Mengubah Ekonomi Masyarakat Lokal.
KUPANG – Pariwisata Nusa Tenggara Timur kini bertransformasi: bukan hanya mengandalkan keindahan alam semata, melainkan menjadikannya mesin penggerak ekonomi rakyat yang nyata. Hal ini ditegaskan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat memaparkan capaian dan arah kebijakan Dasa Cita Ketiga: Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal, dalam pidato pembangunan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Aula Fernandez, Sabtu (15/8/2026).
“Kunci keberhasilan pariwisata bukan sekadar berapa banyak orang yang datang, tapi berapa lama mereka tinggal, berapa banyak yang mereka beli dari produk dan jasa kita, serta bagaimana alam dan budaya tetap terjaga,” tegas Gubernur Melki.
Angka Pertumbuhan yang Membanggakan
Potensi luar biasa NTT terlihat dari kekayaan yang dimiliki: lebih dari 1.600 titik wisata, 300 destinasi bahari, 534 desa wisata, serta Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional.
Data menunjukkan kemajuan nyata: kontribusi pariwisata terhadap PDRB NTT mencapai 7,71 persen pada tahun 2025. Jumlah kunjungan naik dari 1,56 juta orang (2024) menjadi 1,84 juta orang (2025), di mana lebih dari 472 ribu wisatawan mancanegara dan 1,37 juta wisatawan nusantara. Rata-rata lama tinggal wisatawan pun bertambah dari 1,49 hari menjadi 1,67 hari pada periode yang sama.
Gubernur menegaskan angka ini harus terus ditingkatkan agar dampak ekonomi semakin meluas dan merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Kualitas Destinasi dan Promosi yang Semakin Kuat
Pemerintah terus berbenah: mulai dari perbaikan fasilitas seperti Pantai Lasiana, penguatan promosi digital, penyelenggaraan kalender acara menarik seperti Tour de NTT, Kupang Exotic Run, hingga Dan Tour de Timor, serta kampanye bertajuk “Discover the Dream in NTT: A Thousand Dreams, One Archipelago”.
Peningkatan kapasitas pelaku UMKM, kelompok sadar wisata, serta pelatihan bagi pengelola desa wisata juga terus digencarkan. Kini NTT memiliki 861 fasilitas akomodasi dan lebih dari 2.500 rumah makan, sementara masyarakat lokal semakin terlibat aktif dalam penyelenggaraan pariwisata.
Prestasi pun telah diraih: 15 desa masuk Desa Wisata Nusantara 2025, Kampung Prai Ijing di Sumba Barat Daya meraih ASEAN Sustainable Tourism Awards 2026, serta puluhan gengsi lain dalam ajang bergengsi nasional.
Budaya adalah Jiwa Pariwisata NTT
Gubernur menekankan pariwisata NTT tak terpisahkan dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tercatat ada 479 sanggar seni aktif, ratusan tarian, musik, dongeng, arsitektur tradisional, rumah adat, hingga berbagai warisan budaya tak benda.
“Budaya tidak boleh sekadar dipajang saat ada tamu, tapi harus tetap hidup dalam keseharian masyarakat dan menjadi sumber kesejahteraan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Pemprov mendorong pelestarian lewat pendokumentasian, revitalisasi rumah adat, pelatihan seni, penetapan Warisan Budaya Takbenda, hingga penyelenggaraan festival dan gelar seni. Masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama—mulai dari pengelola tempat, penyedia kuliner, hingga pencipta produk ekonomi kreatif.
“Dasa Cita Ketiga mengajarkan kita: pariwisata bukan hanya soal jumlah kunjungan, melainkan soal manfaat yang adil, kelestarian alam, dan kebanggaan atas identitas budaya kita sendiri,” pungkas Gubernur Melki.
Melalui langkah ini, NTT terus bergerak menjadikan pariwisata sebagai kekuatan yang tak hanya mendatangkan tamu, tapi membawa kesejahteraan nyata bagi setiap keluarga di ujung timur Indonesia. (Hiro Lukas)
