Gerakan Jam Belajar Masyarakat: Langkah Nyata NTT Angkat Mutu Pendidikan dari Peringkat Bawah

IMG_20260612_171810_644

Kefamenanu, 11 Juni 2026 – Kondisi pendidikan Nusa Tenggara Timur yang saat ini menempati posisi ke-36 dari 38 provinsi se-Indonesia menjadi perhatian serius. Untuk memutar arah, Pemerintah Provinsi NTT resmi meluncurkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat, sebuah terobosan yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memegang peran dalam mencerdaskan generasi muda.

Sosialisasi kebijakan ini berlangsung meriah di SMAN 2 Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang dihadiri langsung oleh Gubernur Melki Laka Lena, pejabat daerah, kepala sekolah, hingga perwakilan siswa.

Dari Kejayaan ke Tantangan Besar

Gubernur Melki Laka Lena mengungkapkan rasa prihatin sekaligus keterbukaan melihat fakta hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional. “Kita harus jujur: pendidikan NTT tidak sedang baik-baik saja. Ironisnya, dulunya daerah ini dikenal sebagai penghasil tenaga pendidik yang dikirim ke seluruh penjuru negeri, kini capaian akademik kita justru berada di urutan terbawah,” ujarnya tegas.

Menurutnya, akar masalahnya bukan hanya ada di sekolah, melainkan bergesernya pola pengasuhan. “Dulu pendidikan dimulai dari rumah. Sekarang, seolah semua tanggung jawab diserahkan sepenuhnya ke guru dan sekolah. Di sinilah kita harus melakukan perubahan mendasar,” tambahnya.

Satu Setengah Jam Emas Setiap Hari

Lewat Pergub ini, pemerintah mengajak warga menciptakan suasana belajar yang tenang dan mendukung setiap hari pada pukul 18.00 hingga 19.30 WITA.

Dalam waktu 90 menit itu:
✅ Orang tua mendampingi anak mengerjakan tugas atau membaca
✅ Keluarga bisa berkumpul, berdoa, dan berkomunikasi dengan lebih dekat
✅ Masyarakat diminta menjaga ketenangan: mengurangi suara bising, menurunkan volume musik saat ada acara, atau menghentikannya sementara waktu

“Ini bukan larangan, tapi ajakan. Cukup sisihkan satu setengah jam saja demi masa depan anak-anak kita. Setelah itu, aktivitas boleh dilanjutkan kembali,” jelas Gubernur Melki.

Selain jam belajar, kebijakan ini juga mendorong penggunaan buku komunikasi siswa agar guru dan orang tua bisa saling bertukar informasi tentang perkembangan anak.

Suara Siswa: Kami Siap Dukung Penuh

Dukungan paling langsung datang dari kalangan pelajar. Ketua OSIS SMAN 2 Kefamenanu, Jens Leltakaeb, menyambut antusias kebijakan tersebut.

“Sejak diperkenalkan, kami sudah merasakan manfaatnya. Ada perhatian lebih dari orang tua, lingkungan rumah dan sekitar jadi lebih tenang, sehingga kami lebih fokus belajar. Kami siap membantu mengawasi jalannya gerakan ini agar tujuannya benar-benar tercapai,” ujar Jens di hadapan Gubernur.

Dukungan Semua Pihak

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara juga menyatakan dukungan penuh. Wakil Bupati Kamilus Elu menilai gerakan ini adalah langkah tepat untuk membangun disiplin, karakter, dan kebiasaan membaca generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan keberhasilan program ini tergantung pada kerja sama semua pihak. “Mulai tahun ajaran baru Juli 2026 nanti, gerakan ini berjalan penuh. Jauhkan anak dari gawai selama waktu itu, arahkan mereka pada ilmu pengetahuan,” pesannya.

Gerakan Jam Belajar Masyarakat diharapkan menjadi titik balik bagi pendidikan NTT. Bukan hanya soal naiknya peringkat, tapi membangun kembali kebiasaan baik yang menjadikan rumah dan lingkungan sebagai tempat belajar yang menyenangkan.

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penulis : Ocep Purek
Foto : Idin
Editor : Hiro Lukas