NTT Luncurkan Gerakan Jam Belajar Masyarakat: Bangkitkan Kembali Budaya Belajar Demi Tinggalkan Peringkat Bawah
Soe, 11 Juni 2026 – Mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini masih tercatat di kelompok tiga terbawah nasional dari total 38 provinsi. Menyikapi kondisi memprihatinkan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT resmi menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat. Aturan ini disosialisasikan langsung oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena di hadapan insan pendidikan di SMA Negeri 1 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Berdasarkan data Tes Kemampuan Akademik (TKA), penurunan capaian terlihat di semua jenjang, mulai SD, SMP, hingga SMA. Situasi ini disebut Gubernur sebagai ironi, mengingat dahulu NTT dikenal sebagai penghasil tenaga pendidik andalan yang banyak dikirim untuk memajukan pendidikan di daerah lain seperti Papua, Kalimantan, dan Sulawesi.
“Dulu guru dari NTT dicari untuk mengajar di luar daerah. Sekarang justru kualitas pendidikan mereka jauh lebih maju daripada kita. Ini alarm keras. Jika tidak ada perubahan mendasar, kita sedang mengorbankan masa depan anak-anak kita,” tegas Melki.
Kondisi diperberat dengan menurunnya kemampuan akademik para guru. Gubernur menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, karena anak hanya menghabiskan sekitar 8 jam sehari di lembaga pendidikan. Selebihnya, waktu mereka ada di rumah dan lingkungan masyarakat.
Waktu Belajar 18.00–19.30 WITA: Perkuat Peran Keluarga
Melalui Pergub tersebut, ditetapkan waktu khusus yaitu setiap hari pukul 18.00 hingga 19.30 WITA sebagai Jam Belajar Masyarakat. Dalam rentang waktu ini, diharapkan anak-anak fokus membaca, mengerjakan tugas, atau berdiskusi, sementara orang tua hadir mendampingi dan membangun kebersamaan keluarga.
Gubernur menyoroti ancaman ketergantungan gawai yang ia sebut sebagai “narkoba digital”. Menurutnya, banyak keluarga kini kehilangan kebersamaan karena interaksi digantikan oleh layar ponsel.
“Kita dekat secara fisik tapi jauh secara batin. Gerakan ini juga bertujuan memulihkan fungsi rumah sebagai sekolah pertama dan orang tua sebagai guru utama,” ungkapnya.
Ia menegaskan tidak ada anak yang tidak cerdas, yang ada adalah anak yang belum mendapatkan bimbingan dan lingkungan belajar yang tepat.
Sinergi Semua Pihak Demi Generasi Emas
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyatakan gerakan ini akan mulai diterapkan paling lambat tahun ajaran 2026/2027. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten TTS menyatakan siap menindaklanjuti hingga ke tingkat desa dengan melibatkan tokoh agama, adat, dan masyarakat luas.
Langkah ini juga didukung oleh kehadiran SMA Unggul Garuda yang dibangun pemerintah pusat di TTS. Gubernur menyebut keberadaan sekolah tersebut sebagai bukti kepercayaan nasional sekaligus pemacu semangat agar NTT mampu melahirkan generasi unggul yang siap bersaing.
“Pendidikan adalah urusan bersama. Bukan hanya tugas guru, tapi juga orang tua dan seluruh warga. Mari kita hidupkan kembali budaya belajar untuk mengangkat harkat pendidikan NTT,” pungkas Melki.
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Penulis: Ocep Purek
Foto : Idin
Editor: Hiro Lukas
