Waktu 16 Jam di Rumah Jadi Kunci: Gerakan Jam Belajar Gencarkan Peran Keluarga dalam Pendidikan NTT
KUPANG – Pendidikan anak tidak hanya berhenti saat bel sekolah berbunyi. Kesadaran ini menjadi landasan utama peluncuran gerakan baru yang digalakkan pemerintah daerah, bertajuk “Meja Belajar Meki Joni, Ajak Belajar”. Program ini mewajibkan setiap keluarga menyisihkan waktu khusus belajar bersama setiap sore, pukul 18.00 hingga 19.30 Wita, sebagai upaya menyamakan kualitas pendidikan dan membangun karakter anak sejak lingkungan terdekat.
Sosialisasi sekaligus pertemuan dengan wartawan digelar di Lobi Utama Kantor Pemerintah Provinsi NTT, Jumat (29/5/2026). Dalam acara tersebut, tiga pejabat kunci pemerintah daerah—Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M.; Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja, dan UMKM Dr. Drs. Jusuf Lery Rupidara, M.Si; serta Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Oder Maks Sombu, S.H., M.A., M.H.—menjabarkan bahwa langkah ini merupakan jawaban nyata atas tantangan pendidikan saat ini.
Salah satu poin paling menonjol yang disampaikan adalah perbandingan porsi waktu anak: hanya 8 jam dalam sehari berada di sekolah, sementara sisa 16 jam hidup dan tumbuh di tengah keluarga.
“Selama ini kita sering menyalahkan sekolah jika ada anak yang perilakunya menyimpang atau karakternya kurang terbentuk. Padahal, secara hitungan jam, anak jauh lebih banyak berinteraksi dengan orang tua dan lingkungan rumah. Ini tidak adil. Kita harus mengubah pola pikir itu dan sama-sama bertanggung jawab,” tegas Ambrosius Kodo saat memaparkan kebijakan tersebut.
Menurutnya, ketika sinergi antara sekolah dan rumah berjalan kuat, maka tiga sasaran besar pembangunan sumber daya manusia akan tercapai: pembentukan karakter yang kokoh, peningkatan kemampuan akademik, serta penanaman jiwa kewirausahaan sejak dini.
Gadget Disingkirkan, Komunikasi Dipererat
Gerakan satu setengah jam ini bukan sekadar kegiatan mengerjakan tugas sekolah. Inti dari program ini adalah kebersamaan dan interaksi. Dalam durasi tersebut, anak-anak diimbau untuk meletakkan gawai dan perangkat elektronik mereka. Waktu tersebut dialihkan untuk hal-hal sederhana namun bermakna: mulai berdoa bersama, bercerita tentang pengalaman di sekolah, hingga berdiskusi mengenai kearifan lokal yang justru banyak diketahui oleh orang tua, meski dengan latar belakang pendidikan beragam.
“Banyak anak berpikir orang tuanya tidak bisa membantu karena hanya tamat SD atau bekerja sebagai petani. Padahal, pengetahuan tentang budaya, adat istiadat, dan cara hidup yang baik justru kekayaan yang dimiliki keluarga. Di sinilah peran orang tua sangat besar,” tambah Ambrosius.
Selain memperkuat ikatan batin, jam belajar ini juga dipandang efektif mencegah pergaulan bebas. Dengan anak-anak tetap berada di rumah dan memiliki kegiatan positif di bawah pengawasan orang tua, risiko terjerumus ke lingkungan yang kurang baik dapat ditekan seminimal mungkin.
Butuh Dukungan Semua Pihak, Termasuk Mimbar Agama
Keberhasilan gerakan ini, menurut para pejabat, tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah atau keluarga saja. Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah kabupaten dan kota yang memiliki jaringan hingga ke desa, para pemuka agama, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar.
“Kami berharap dukungan penuh dari pemerintah kabupaten hingga ke tingkat RT dan RW agar semangat ini menyebar sampai ke pelosok desa. Kami juga mengajak para pemuka agama, mimbar gereja atau tempat ibadah lainnya bisa menjadi sarana mengingatkan umatnya akan pentingnya mendampingi anak belajar. Lembaga agama pun butuh generasi berkualitas agar bisa terus berkarya dan bermanfaat,” ujarnya.
Bentuk dukungan paling sederhana namun penting juga datang dari tetangga. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menciptakan suasana tenang. Misalnya, mengecilkan volume suara televisi atau alat musik saat jam belajar berlangsung, agar anak-anak bisa fokus.
“Jangan lagi menyuruh anak mencuci piring, berbelanja ke warung, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain pada pukul 18.00 sampai 19.30. Waktu itu khusus untuk belajar. Jika ini menjadi budaya di seluruh NTT, maka kita sedang menyiapkan masa depan yang cerah bagi anak-anak kita, karena pendidikan sejatinya adalah proses belajar dan berbakti seumur hidup,” pungkas para pejabat dalam kesempatan itu, seraya berharap media massa turut menyebarluaskan semangat positif ini ke seluruh penjuru daerah.
