“Positif Narkoba Karena Terhirup Asap?” — Rakyat Jangan Dipaksa Percaya Penjelasan yang Menghina Akal Sehat.”

file_0000000042fc720b9b174fd97d2fe34d

“Positif Narkoba Karena Terhirup Asap?” — Rakyat Jangan Dipaksa Percaya Penjelasan yang Menghina Akal Sehat

 

Pekan Baru, klik-infopol. Com—Pekanbaru kembali menjadi sorotan publik.
Bukan karena prestasi, bukan karena keberhasilan pemberantasan narkoba, tetapi karena munculnya dugaan standar ganda dalam penegakan hukum setelah anak seorang pejabat daerah dikabarkan diamankan dan dinyatakan positif narkoba oleh BNN.

Namun yang membuat publik geram bukan hanya soal hasil tes positif tersebut. Yang memicu ledakan kemarahan masyarakat adalah pernyataan dalam jumpa pers yang menyebut bahwa yang bersangkutan disebut “tidak menggunakan narkoba, hanya terpapar asap dari orang lain sehingga hasilnya positif.”

Pernyataan ini langsung mengundang tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Sebab selama ini, rakyat kecil yang tertangkap positif narkoba hampir tidak pernah mendapatkan ruang pembelaan semewah itu. Tidak ada narasi “terhirup asap”, tidak ada perlindungan opini publik, tidak ada penjelasan panjang yang terkesan berusaha menyelamatkan nama besar keluarga tertentu.

Masyarakat pun mulai bertanya:

Apakah hukum di negeri ini memang masih sama untuk semua orang?
Ataukah hukum hanya keras kepada rakyat kecil, tetapi menjadi lunak ketika berhadapan dengan anak pejabat?

Publik tentu tidak bodoh.
Rakyat sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana orang kecil langsung dicap pengguna, dipermalukan, ditahan, bahkan dihancurkan masa depannya hanya karena hasil tes positif. Tetapi ketika yang terseret adalah keluarga elite, tiba-tiba muncul narasi teknis, penjelasan medis, dan berbagai alasan yang terasa sulit diterima akal sehat masyarakat awam.

Jika memang benar paparan asap bisa menyebabkan hasil tes positif, maka pertanyaannya sederhana:

Mengapa penjelasan seperti itu hampir tidak pernah diberikan kepada rakyat biasa yang bernasib sama?

Inilah yang memunculkan kesan kuat bahwa hukum di negeri ini masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Kasus ini bukan lagi sekadar soal narkoba.
Ini sudah menyentuh soal kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Sebab ketika masyarakat mulai merasa bahwa keadilan bisa dibedakan berdasarkan jabatan, kekuasaan, atau nama belakang seseorang, maka yang runtuh bukan hanya citra lembaga — tetapi juga rasa percaya rakyat terhadap negara.

BNN dan aparat terkait harus sadar bahwa publik membutuhkan transparansi, bukan narasi yang justru menimbulkan kecurigaan baru.

Kalau memang ada hasil medis resmi, buka secara terang.
Kalau memang ada prosedur ilmiah, jelaskan secara utuh kepada publik.
Jangan sampai muncul kesan bahwa hukum bisa dinegosiasikan ketika yang terlibat adalah anak orang berkuasa.

Karena di negeri yang sehat, keadilan tidak boleh mengenal status sosial.

Dan rakyat hari ini sedang melihat dengan sangat jelas:

Apakah hukum benar-benar berdiri tegak, atau hanya tunduk di hadapan kekuasaan.

 

Editor: Andry Bria
Redaksi: [Klik-Infopol.com](https://klik-infopol.com?utm_source=chatgpt.com) — Tajam, Terpercaya, Suara Rakyat, Fakta & Integritas