Menemukan Kekudusan di Tengah Kehidupan Biasa.

IMG_20261101_134848_992

Oleh: Steph Tupeng Witin.

 

Ulasan bacaan Hari Raya Semua Orang Kudus, Matius 5:1‑12

Klikinfopol.com. Kekudusan seringkali kita bayangkan sebagai sosok tokoh agung yang terpisah dari kehidupan sehari‑hari, dengan kisah luar biasa yang diceritakan ulang dari generasi ke generasi. Namun perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus mengajak kita membuka mata: kekudusan tidak terbatas pada nama‑nama besar dalam buku sejarah gereja. Kekudusan juga tumbuh subur dalam hidup orang‑orang biasa yang memilih mencintai, memperhatikan, dan mengampuni satu sama lain di tengah rutinitas sederhana.

Tulisan ini mengawali perenungan melalui kutipan dari novel Khotbah di Bukit karya Kuntowijoyo: “Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu.” Kalimat tersebut menyentuh persoalan paling mendasar dalam hidup manusia. Barman, tokoh kaya dalam novel, hidup terpenjara oleh harta yang ia miliki. Harta yang seharusnya memberi kenyamanan justru menimbulkan kegelisahan, merampas ruang batin dan kebebasan hatinya. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa bahagia tidak pernah bisa dibeli dengan kekayaan, jabatan, atau pujian dari orang lain.

Yesus dalam Sabda Bahagia mengajarkan makna “miskin di hadapan Allah” yang jauh melampaui kemiskinan materi. Kata Yunani ptochoi mengacu pada orang yang menyadari keterbatasan dirinya: tidak bergantung pada kekuatan sendiri, tidak menjadikan harta dan kuasa sebagai pusat hidup, serta terbuka menerima bimbingan Tuhan. Sikap hati seperti ini membuat seseorang tidak sombong, tidak merasa paling benar, dan berani mengakui kelemahan tanpa rasa gengsi.

Perayaan Semua Orang Kudus mengangkat gambaran dari Kitab Wahyu: orang‑orang kudus adalah mereka yang keluar dari kesusahan besar, membersihkan jubah mereka dalam darah Anak Domba. Seperti emas yang dimurnikan di dalam tanur api, iman mereka diuji oleh kesulitan kehidupan. Kekudusan tidak berarti hidup tanpa kesedihan, kelelahan, atau penderitaan. Kita tetap boleh merasakan duka dan lelah, namun kita tetap memegang kendali atas cara kita menanggapi keadaan. Kita tidak dapat selalu memilih apa yang terjadi, tetapi kita dapat memilih untuk tetap setia berbuat baik dan menjaga harapan.

Henri J. Nouwen menegaskan pesan paling inti dari perayaan ini: kita merayakan orang‑orang suci di antara kita, mereka yang tidak memiliki lingkaran cahaya dalam kisah‑kisah terkenal, tetapi hidup dengan semangat Injil dengan menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Kekudusan tidak harus melalui kemartiran darah atau proses kanonisasi yang panjang. Cukup dengan hidup sederhana dan baik, saling mencintai, memperhatikan, dan mengampuni dalam kehidupan sehari‑hari.

Pada akhirnya, Sabda Bahagia Yesus menjadi janji bagi siapa saja yang memilih jalan hidup ini: “Bersukacitalah dan bergembiralah karena besarlah ganjaranmu di Surga.” Kekudusan bukan gelar untuk segelintir orang terpilih, melainkan panggilan yang terbuka bagi setiap orang biasa yang berani hidup dengan kasih.(*)

Editor: Hiro Lukas