Rosario Bukan Sekadar Mengulang Doa – Melainkan Menjalin Kasih yang Nyata.
Oleh: RD Damianus Dionisius Nuwa.(Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)
Klikinfopol.com. Bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario. Namun, devosi ini bukan sekadar kegiatan rutin satu bulan dalam setahun. Lebih dari deretan doa yang diulang, Rosario adalah ruang bertemu – dengan Tuhan dan sesama, kesempatan memperdalam iman, mempererat persaudaraan, dan mewujudkan kasih dalam tindakan nyata.
Saat umat berkumpul di rumah, lingkungan, atau Komunitas Umat Basis (KUB), sesuatu yang indah terjadi: suara orang tua, muda, anak-anak, berpadu menjadi satu. Di sini tidak ada perbedaan kekayaan, jabatan, atau kedudukan. Semua sama-sama membutuhkan rahmat Tuhan. Inilah kesetaraan sejati: kita semua saudara di hadapan Tuhan.
Namun kebersamaan ini kehilangan maknanya jika bibir mendaraskan “Salam Maria” sementara hati masih menyimpan permusuhan, iri, atau kebencian terhadap sesama. Doa yang tidak mendamaikan hati tidaklah sejati.
Doa Rosario tidak boleh berhenti saat kalimat terakhir selesai diucapkan. Di sekitar kita masih banyak keluarga yang kesulitan, orang sakit yang kesepian, lansia yang menunggu dikunjungi, anak-anak yang butuh pendampingan. Mereka adalah sesama yang Tuhan titipkan kepada kita.
Maka, sebelum atau sesudah berdoa:
– ✅ Sapa dan dengarkan pergumulan keluarga di sekitar
– ✅ Kunjungi yang sakit dan kesepian
– ✅ Bantu yang membutuhkan – tidak harus uang, cukup kehadiran, pendengaran, penghiburan
– ✅ Dampingi yang sedang menghadapi masalah.
Ini sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja: iman tidak terkurung di ruang doa, melainkan terwujud dalam tindakan yang memanusiakan sesama.
Tantangan terbesar: Rosario hanya dijadikan kebiasaan – datang, berdoa, pulang, tanpa ada perubahan di hati maupun di lingkungan. Bahkan mulai ada yang memilih-milih rumah yang dikunjungi, menghindari sebagian warga selama bulan Rosario. Ini bertentangan dengan semangat Maria yang rendah hati, terbuka, dan melayani semua orang.
Doa bersama juga harus ramah bagi yang merasa jauh dari Gereja, yang jarang hadir, atau yang hidupnya berbeda. Jangan biarkan ruang doa berubah menjadi ruang penghakiman. Maria sendiri menyambut semua orang dengan kasih.
Bukan berapa banyak doa dilafalkan atau berapa banyak orang hadir. Ukurannya sederhana:
Apakah persaudaraan menjadi lebih erat? Apakah yang lemah mendapat perhatian? Apakah tetangga yang kesulitan tidak lagi sendirian?
Doa yang dipanjatkan kepada Tuhan seharusnya menggerakkan tangan untuk menolong sesama. Ketika kita berdoa bersama di hadapan Tuhan, kita juga dipanggil untuk hadir bersama – membela martabat manusia, merawat kehidupan, dan menyampaikan kasih Kristus di tengah dunia.
Rosario yang sejati tidak hanya mengangkat hati kepada Tuhan, tetapi juga menundukkan hati untuk merangkul sesama.(*)
Editor: Hiro Lukas
