Tenun NTT: Lebih dari Sekadar Kain, Simbol Identitas, Ekonomi, dan Kekuatan Perempuan

IMG_20260614_143841_437

Jakarta, 13 Juni 2026 — Di balik setiap helai benang yang disusun dengan sabar hingga menjadi selembar kain tenun Nusa Tenggara Timur, tersimpan lebih dari sekadar keindahan motif. Ada cerita perjuangan, kearifan leluhur, dan denyut nadi perekonomian keluarga yang digerakkan oleh tangan-tangan perempuan. Hal ini ditekankan secara tegas oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena saat membuka pameran bertajuk “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan” di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Sabtu kemarin.

Pameran yang digagas oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Yayasan Uma Nusantara ini bukan sekadar memajang hasil kerajinan. Di sana, pengunjung dapat melihat langsung bagaimana tenun, pangan lokal, dan kearifan adat menjadi satu kesatuan yang membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat. Turut hadir memberikan dukungan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, serta Ketua TP PKK NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena.

Bagi Gubernur Melki, kain tenun NTT adalah harta tak ternilai. “Ini bukan hanya barang kerajinan. Tenun adalah simbol identitas budaya, kekayaan intelektual yang telah diwariskan turun-temurun, sekaligus tulang punggung ekonomi keluarga. Di baliknya ada kesabaran luar biasa — perempuan NTT bangun pagi mengurus kebun dan rumah tangga, lalu melanjutkan pekerjaan menenun hingga malam hari,” ujarnya.

Setiap motif dan corak yang tercipta mengandung makna filosofis, kisah perjalanan hidup, dan nilai-nilai luhur masyarakat setempat. Karena itu, warisan ini wajib dijaga agar tidak punah ditelan zaman.

Data membuktikan betapa besar andil perempuan di NTT. Berdasarkan Survei GoodStats 2024, kontribusi mereka terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 42,4 persen — angka yang melampaui rata-rata nasional sebesar 36,1 persen.

Wamen PPPA Veronica Tan menegaskan, pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci menyelesaikan berbagai masalah sosial, mulai dari kemiskinan, perkawinan dini, hingga stunting. Program seperti Kebun Pangan Perempuan dan agroforestri bambu menjadi jalan strategis untuk membangun sistem ekonomi yang berkelanjutan. Bahkan pada Mei 2026 lalu, enam kelompok tani perempuan di NTT telah menerima hak kelola hutan seluas 648 hektare — bukti nyata kemampuan mereka memimpin pemulihan alam sekaligus kesejahteraan.

Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menambahkan bahwa para pengrajin tenun membutuhkan dukungan lebih lanjut: mulai dari pelatihan keterampilan, akses pasar yang lebih luas, hingga pendampingan usaha. “Mereka berjuang memikul banyak peran sekaligus. Maka tenun harus terus didorong agar manfaatnya terasa nyata bagi kehidupan keluarga,” katanya.

Inisiator pameran sekaligus Pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar, berharap ajang ini menjadi jembatan pertemuan antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat adat. “Kita ingin membangun kemitraan agar potensi yang ada di NTT bisa berkembang lebih baik. Ketika budaya terjaga, perempuan berdaya, maka ekonomi pun tumbuh kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pameran Weaving Wonders mengingatkan kita: melestarikan tenun NTT berarti menjaga identitas bangsa, membangkitkan ekonomi daerah, dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk terus berkarya dan memimpin perubahan.

Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.

Penulis: Alexander L. Raditia

Editor: Hiro Lukas